Petani Mesuji Kini Wajib Pakai Barcode untuk Beli BBM Subsidi Alsintan
--
RADARLAMPUNG.CO.ID – Petani di Kabupaten Mesuji kini wajib menggunakan barcode untuk membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang digunakan pada Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan).
Kebijakan ini disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mesuji, Syamsi Hermansyah, saat memberikan pelayanan rekomendasi BBM bersubsidi bagi petani di Desa Tanjung Mas Makmur, Kecamatan Mesuji Timur, Jumat, 7 November 2025.
Menurut Syamsi, penerapan sistem barcode merupakan tindak lanjut dari peraturan BPH Migas yang memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Pertanian, untuk menerbitkan rekomendasi dan barcode BBM bersubsidi.
“Dinas Pertanian memiliki kewenangan memberikan rekomendasi pembelian BBM untuk Alsintan, baik pra-panen seperti mesin pompa air dan hand traktor, maupun pasca-panen seperti combine harvester,” jelasnya.
Untuk mendapatkan barcode, petani wajib mengajukan permohonan kepada Dinas Pertanian dengan melampirkan sejumlah dokumen pendukung.
Persyaratan tersebut meliputi:
Surat permohonan atas nama kelompok tani atau individu,
Data luas lahan dan spesifikasi alat yang digunakan,
Fotokopi KTP, serta
Foto alat Alsintan lengkap dengan titik koordinat lokasi penggunaannya.
Setelah berkas dinyatakan lengkap, Unit Pelaksana Penyuluh Pertanian (PPL) di masing-masing kecamatan akan melakukan verifikasi lapangan. Jika tidak ada kendala, penyuluh membawa berkas tersebut ke Dinas Pertanian Kabupaten untuk diterbitkan barcode resmi.
“Langkah ini penting karena BBM subsidi tidak boleh diperjualbelikan secara eceran. Dengan sistem barcode, pengawasan bisa lebih ketat dan distribusi menjadi tepat sasaran,” tegas Syamsi.
Ia menambahkan, kuota BBM bagi petani akan disesuaikan dengan kebutuhan operasional Alsintan, baik untuk kegiatan harian maupun bulanan.
Penerapan sistem ini diharapkan mampu meningkatkan ketepatan distribusi BBM subsidi serta mencegah penyalahgunaan di lapangan. Syamsi juga mengimbau para petani segera menyesuaikan diri dengan sistem baru agar aktivitas pertanian tetap berjalan lancar.(*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
