disway awards

Aroma Roti dari Balik Jeruji: Denyut Kehidupan Lewat Program Giatja Lapas Kelas I Bandar Lampung

Aroma Roti dari Balik Jeruji: Denyut Kehidupan Lewat Program Giatja Lapas Kelas I Bandar Lampung

Aroma Roti dari Balik Jeruji: Denyut Kehidupan Lewat Program Giatja Lapas Kelas I Bandar Lampung.-Foto Mutia Nursabitha/Magang Kemnaker RI Batch 1-

RADARLAMPUNG.CO.ID- Di balik tembok tinggi dan jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Bandar Lampung (Lapas Rajabasa), ada aroma roti hangat yang setiap pagi menyusup pelan. 

Aromanya sederhana, namun sarat makna—tentang harapan, tentang kesempatan kedua, dan tentang masa depan yang perlahan dibangun ulang oleh tangan-tangan yang pernah tersesat.

Di tempat yang sering dipersepsikan sebagai ruang hukuman, denyut kehidupan justru berdenyut melalui program Giatja (Kegiatan Kerja) lapas kelas I Bandar Lampung.


Dapur higienis dan bahan baku berkualitas menjadi kunci produksi roti raja bakery, program Giatja Lapas kelas I Bandar Lampung (Lapas Rajabasa)-Foto Mutia Nursabitha/Magang Kemnaker RI Batch 1-

Salah satu wujud nyatanya adalah Roti Raja Bakery, unit usaha yang kini tak hanya memproduksi roti murah meriah, tetapi juga memanggang kembali kepercayaan diri warga binaan.

BACA JUGA:DPRD Bandar Lampung Soroti Turunnya Retribusi Parkir Daerah, Dorong Terapkan Digitalisasi

Di dapur sederhana di dalam lapas, warga binaan bekerja sejak pagi. Mereka menimbang adonan, menguleni tepung, memanggang roti, hingga mengemasnya dengan rapi. 

Tak ada yang instan. Semua dikerjakan dengan kesabaran, disiplin, dan tanggung jawab—nilai-nilai yang perlahan tumbuh bersama setiap roti yang keluar dari oven.

Bagi Medi Oktafiansyah, Kepala Bidang Kegiatan Kerja Lapas Kelas I Bandar  Lampung, Roti Raja Bakery bukan sekadar unit usaha. Ia adalah ruang pembinaan yang hidup.

BACA JUGA:Program KKM Fair Alfamart Sampai Akhir November 2025: Ada Beli 2 Susu Kental Manis Gratis Sari Roti

“Fokus kami bukan keuntungan. Yang kami bangun adalah kemandirian. Supaya ketika mereka keluar nanti, mereka tidak pulang dengan tangan kosong,” ujarnya pelan.

Ia bercerita, tak sedikit warga binaan yang membawa pulang ilmu ini kepada keluarga mereka.

Saat kunjungan, mereka berbagi cerita tentang adonan, takaran, dan teknik memanggang. 

Bahkan, ada yang setelah bebas benar-benar membuka usaha roti sendiri—meneruskan apa yang pernah dipelajari di balik jeruji.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: