BPMP Lampung Buka-bukaan: Mutu Pendidikan Masih Menengah, Data Dapodik Sering Tak Sesuai Realita
Kepala BPMP Provinsi Lampung, Dr Khairullah, S.Pd,M.Pd saat diwawancarai di ruang kerjanya.-Foto.Lia Nanda Agustina-
RADARLAMPUNG.CO.ID- Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Lampung memberikan rapor objektif terhadap kualitas pendidikan di Sang Bumi Ruwa Jurai.
Hingga saat ini, mutu pendidikan di Lampung dinilai masih berada di kategori menengah dan belum menembus jajaran papan atas secara nasional.
Kepala BPMP Provinsi Lampung, Dr. Khairullah, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa pengakuan ini bukan untuk mengecilkan hati, melainkan sebagai pijakan untuk melakukan perbaikan berbasis data.
"Secara umum, mutu pendidikan Lampung masih di kategori menengah. Namun, langkah strategis sudah mulai terlihat, salah satunya pembangunan 35 sekolah unggul oleh Dinas Pendidikan," ujar Khairullah dalam keterangannya.
BACA JUGA:Perlukah Tes Kemampuan Akademik Diterapkan di SMP Lampung? Ini Pandangan Pengamat Pendidikan
Sinergi Pusat-Daerah dan 'Senjata' TKA
Khairullah menjelaskan, peningkatan mutu tidak bisa dilakukan secara instan. BPMP kini fokus mengawal program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), mulai dari revitalisasi sekolah hingga pengawalan Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Menariknya, TKA yang selama ini sukses berjalan di tingkat SMA, tahun ini mulai merambah ke jenjang SD dan SMP. "TKA adalah alat ukur objektif. Sejauh ini partisipasi sekolah hampir 100 persen dan hasilnya tergolong cukup baik," jelasnya.
Soroti Data Dapodik yang Tidak Akurat
Salah satu ganjalan utama di lapangan adalah masalah klasik: ketidaksesuaian data Dapodik. Khairullah mengungkapkan pihaknya masih menemukan sekolah yang melaporkan kondisi "baik" di sistem, padahal kenyataannya rusak parah atau bocor.
"Kami turun langsung. Ada yang fisiknya rusak tapi di data bagus, sehingga tidak dapat bantuan. Ini yang kami perjuangkan agar bisa masuk program revitalisasi. Sarana prasarana sangat menentukan kenyamanan dan keselamatan siswa," tegasnya.
Guru Sebagai 'Sopir' Mutu
Di era digital, BPMP mendorong setiap sekolah memiliki minimal tiga papan digital sebagai media pembelajaran. Namun, alat canggih tidak akan berguna tanpa kualitas SDM yang mumpuni.
"Guru itu ibarat sopir. Kualitas mereka menentukan mutu pendidikan. Jangan sampai anak lebih pintar dari gurunya. Guru wajib upgrade diri, baik lewat pelatihan daring maupun luring," tambahnya.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) & Sekolah Interaktif
Terkait program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG), Khairullah melihat ada peluang besar untuk penguatan karakter. Menurutnya, MBG adalah sarana mengajarkan antre, disiplin, dan kebersamaan kepada siswa.
BACA JUGA:Lolos Seleksi Wawancara, 26 Calon Anggota Dewan Pendidikan Lampung Tunggu Penetapan Gubernur
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
