Ngabuburit di Pasar Jatimulyo, Mirza Cek URC Drainase Sambil Borong Sayuran
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat melakukan tinjauan di sekitar Pasar Jatimulyo.---Foto: Prima Imansyah Permana/ Radarlampung.co.id.---
RADARLAMPUNG.CO.ID – Sore 25 Februari 2026, suasana Pasar Jatimulyo tampak berbeda dari biasanya.
Di sela hiruk pikuk transaksi sayur mayur dan tawar-menawar harga, maupun kemacetan lalulintasnya, kehadiran Gubernur Rahmat Mirzani Djausal, menjadi magnet perhatian pedagang dan pembeli.
Didampingi jajarannya, orang nomor satu di Lampung itu menyusuri lapak-lapak di sepanjang Jalan Pangeran Senopati.
Kunjungannya bukan sekadar seremonial. Ia datang untuk meninjau langsung pelaksanaan Unit Reaksi Cepat (URC) pembuatan drainase di sekitar pasar, sebuah langkah responsif pemerintah dalam menangani persoalan infrastruktur dasar yang kerap luput dari perhatian.
BACA JUGA:Resmi Ditetapkan, Ini Daftar Nama Dewan Pendidikan Lampung Masa Bakti 2025–2030
Namun, di tengah peninjauan tersebut, ada momen hangat yang mencuri perhatian. Tanpa banyak protokoler, Mirza -sapaan akrabnya- tiba-tiba memborong berbagai bahan pangan dari pedagang.
Cabai merah, bayam, daun singkong, daun pepaya, tempe, kurma, selada, sawi, hingga kangkung berpindah tangan dengan cepat.
“Ini siap mau tempe, kita bagi-bagi. Ada kurma juga buat buka puasa,” ujarnya sembari tersenyum, lalu membagikan belanjaannya kepada warga dan awak media yang berada di lokasi.
Aksi spontan itu disambut antusias. Beberapa pedagang tampak sumringah, tak menyangka dagangannya diborong langsung oleh gubernur. Di tengah kondisi ekonomi yang dinamis, langkah sederhana tersebut menjadi suntikan semangat bagi pelaku usaha kecil agar tetap optimistis.
BACA JUGA:Progres Tunda Bayar Lampung Capai 90 Persen, Salah Ketik E-Billing Jadi Kendala
Tak berhenti pada aksi berbagi, Mirza juga menyoroti persoalan klasik yang selama ini dikeluhkan masyarakat: drainase yang tak berfungsi optimal.
Ia menemukan adanya saluran air yang tertutup pengecoran oleh sejumlah pemilik lapak, serta bangunan pedagang yang berdiri di atas drainase.
“Ini drainasenya nggak ada, jadi jalan yang harusnya lebar jadi sempit karena banyak pedagang yang pada maju,” katanya tegas.
Menurutnya, persoalan ini bukan hanya soal estetika kota, tetapi juga menyangkut potensi banjir dan kenyamanan aktivitas ekonomi di pasar.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
