MBG Kembali Normal, Harga Telur dan Ayam Potong Naik di Bandar Lampung

MBG Kembali Normal, Harga Telur dan Ayam Potong Naik di Bandar Lampung

Kondisi harga ayam dan telur di pasaran saat ini mengalami kenaikan di Bandar Lampung.--

RADARLAMPUNG.CO.ID – Harga telur ayam ras dan ayam potong di sejumlah pasar tradisional Kota Bandar Lampung mengalami kenaikan dalam sepekan terakhir. Kenaikan tersebut dikeluhkan pedagang maupun pembeli karena terjadi pada dua komoditas yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat.

Pantauan di Pasar Tempel, Rajabasa, Rabu, 15 Juli 296, harga telur ayam ras yang sebelumnya dijual sekitar Rp22 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp25 ribu per kilogram. Harga tersebut bahkan sudah berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

Tidak hanya telur, harga ayam potong juga mengalami kenaikan. Ayam potong dengan berat sekitar dua kilogram yang sebelumnya dijual Rp48 ribu per ekor kini mencapai Rp55 ribu per ekor.

Kondisi serupa juga terlihat di Pasar Pasir Gintung. Sejumlah pedagang mengaku menerima pasokan dengan harga yang lebih tinggi dari biasanya sehingga terpaksa menaikkan harga jual kepada konsumen.

Salah seorang pedagang telur dan ayam di Pasar Tempel, Yanti, mengatakan kenaikan harga mulai dirasakan dalam beberapa hari terakhir. Menurutnya, kenaikan bukan berasal dari pedagang pasar, melainkan sudah terjadi sejak tingkat pemasok.

"Kami hanya mengikuti harga dari pemasok. Belinya memang sudah mahal, jadi mau tidak mau harga jual juga ikut naik," katanya.

Ia menuturkan stok telur maupun ayam potong sejauh ini masih mencukupi kebutuhan pasar. Hanya saja, harga dari distributor terus mengalami penyesuaian sehingga pedagang tidak bisa mempertahankan harga lama.

Menurut Yanti, meningkatnya permintaan menjadi salah satu penyebab naiknya harga kedua komoditas tersebut. Terlebih setelah kembali beroperasinya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah serta dimulainya tahun ajaran baru membuat kebutuhan telur dan ayam meningkat.

"Kalau menurut informasi yang kami terima, permintaan memang lagi banyak. MBG sudah berjalan lagi, kemudian anak-anak juga sudah masuk sekolah. Mungkin itu yang membuat harga dari pemasok ikut naik," ujarnya.

Kenaikan harga tersebut mulai berdampak pada daya beli masyarakat. Beberapa pelanggan, kata dia, memilih membeli telur maupun ayam dalam jumlah yang lebih sedikit dibanding biasanya agar pengeluaran rumah tangga tidak membengkak.

"Kalau biasanya beli dua kilogram telur, sekarang ada yang beli satu kilogram saja. Ayam juga begitu, ada yang memilih ukuran lebih kecil supaya lebih murah," ungkapnya.

Sejumlah pembeli berharap kenaikan harga tidak berlangsung lama mengingat telur dan ayam merupakan bahan pangan yang hampir setiap hari dikonsumsi masyarakat. Mereka berharap harga kembali normal sehingga tidak semakin membebani kebutuhan rumah tangga yang sebagian digunakan untuk berdagang.

"Harganya kaya udah pas mau lebaran aja kalau gini," tandasnya.

Sementara itu, Kadisdag Bandarlampung Lampung Erwin menyebut bisa saja beberapa hal menjadi faktor kenaikan dua pangan pokok tersebut diantaranya, Kenaikan biaya pakan ternak. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait