Saat Notifikasi Menjaga Napas
Kembar tiga asal Lampung Aleefah, Niswah dan Najeeha melakukan belajar daring saat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebar,Senin, 7 September 2026.-Foto Melida Rohlita-
RADARLAMPUNG.CO.ID— Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Ibu rumah tangga dengan lima anak, Aidila Putri (32) warga Rajabasa, Bandar Lampung, pada Minggu, 6 September 2026.
Pesannya tidak panjang. Hanya beberapa kalimat tentang abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, tetapi cukup untuk menguatkan keputusan yang sudah dibuatnya sejak sehari sebelumnya.
Tiga anak perempuan di rumah itu tidak boleh keluar.
Aleefah, Niswah, dan Najeeha adalah kembar tiga berusia 10 tahun. Ketiganya merupakan siswi MIN 5 Bandar Lampung.
Hari-hari mereka biasanya diisi sekolah, bermain, dan berbagai aktivitas di luar rumah. Namun kabar abu vulkanik yang mulai mencapai Bandar Lampung membuat Aidila memilih menghentikan kegiatan tersebut.
Sejak Sabtu, 5 September, ketiganya diminta tetap berada di dalam rumah bersama Bunda, Abi dan dua adiknya yang masih kecil.
“ Saya langsung melarang mereka keluar rumah saat pemberitaan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai merambah ke Bandar Lampung. Sejak Sabtu mereka tidak keluar untuk bermain ataupun kegiatan di luar lainnya,” ujar Aidila.
Saat itu, belum ada surat dari sekolah yang meminta anak-anak belajar dari rumah. Aidila mengambil keputusan sebagai orang tua berdasarkan kondisi yang dilihatnya dan informasi mengenai abu vulkanik yang mulai beredar.
Ada alasan lain yang membuatnya tidak ingin mengambil risiko. Ketiga anaknya memang cukup sensitif terhadap debu.
“Ketiganya memang pernafasannya rentan dengan debu sejak lahir, termasuk abu vulkanik. Walaupun sudah di dalam rumah, mereka sudah bersin-bersin dan tenggorokannya sakit. Padahal sudah minum air banyak-banyak dan tidak keluar rumah,” katanya.
Kondisi itu membuat peringatan yang muncul di ponsel Aidila sehari kemudian terasa berbeda. Bukan lagi sekadar kabar mengenai aktivitas gunung api, melainkan petunjuk mengenai apa yang perlu dilakukan.
“KEMKOMDIGI: Waspada erupsi & abu vulkanik. Pakai masker, tutup pintu/jendela, jauhi zona bahaya dan saring info (stop hoaks). Info resmi: BNPB 117 / BMKG 196,” demikian pesan Direktur Layanan Ekosistem Digital Aju Widya Sari melalui instruksi tertulis pada Minggu, 6 September 2026.
Pesan tersebut semakin menguatkan langkah Aidila. Anak-anak tetap di rumah. Pintu dan jendela menjadi bagian dari kewaspadaan keluarga, sementara informasi mengenai kondisi abu terus diperhatikan.
Ada hal lain yang membuat pesan itu penting. Dalam situasi bencana, informasi bergerak hampir secepat kabar tentang peristiwa itu sendiri. Pesan resmi dapat sampai ke ponsel masyarakat dalam hitungan waktu, tetapi kabar yang belum terverifikasi juga dapat beredar dengan cara yang sama.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


