KRI Lepu Dekati Perairan GAK, Aktivitas Erupsi Mulai Menurun
Konferensi pers Gunung Anak Krakatau di Pusdalops BPBD Lampung, Rabu siang.---Foto: Prima Imansyah Permana/ Radarlampung.co.id.---
RADARLAMPUNG.CO.ID – Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) mulai menurun pada Rabu 9 September 2026, namun statusnya masih Level III atau Siaga. Penurunan itu terlihat dari semakin jarangnya interval erupsi dan berkurangnya material magma serta debu yang keluar.
Kondisi tersebut terpantau dalam pengamatan langsung dari laut yang dilakukan Pemerintah Provinsi Lampung bersama TNI Angkatan Laut menggunakan KRI Lepu 861, Rabu pagi.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan, berdasarkan pemantauan visual, aktivitas GAK saat ini jauh lebih rendah dibandingkan tiga hari sebelumnya.
"Secara visual, aktivitasnya mulai menurun dibandingkan tiga hari sebelumnya. Frekuensi dan intensitas material magma yang keluar juga sudah sangat berkurang," kata Mirza dalam konferensi pers di Pusdalops BPBD Lampung, Rabu siang.
BACA JUGA:Sertijab, Kombes Eko Bagus Riyadi Jabat Kapolresta Bandar Lampung
Menurutnya, jeda atau interval erupsi semakin berjarak. Material debu yang terlihat juga relatif lebih sedikit dan saat ini aktivitas lebih banyak ditandai keluarnya asap putih.
Temuan tersebut diperkuat pemantauan langsung yang dilakukan TNI AL dari perairan sekitar GAK. Danlanal Lampung Letkol Laut (P) Irianto Kurniawan mengatakan KRI Lepu 861 telah bersiaga di perairan Lampung selama beberapa hari terakhir.
Rabu pagi, kapal tersebut berangkat dari Pelabuhan Panjang sekitar pukul 08.00 WIB bersama Pemprov Lampung, BPBD, Basarnas dan ITERA. Rombongan tiba di lokasi sekitar pukul 10.00 WIB untuk melakukan pengamatan visual jarak dekat.
"Hasil pemantauan hari ini cukup aman," kata Irianto.
Meski aktivitas cenderung menurun, kondisi tersebut belum dapat dimaknai sebagai berakhirnya erupsi.
BACA JUGA:Pencuri Tembaki Warga, Satu Terluka, Polisi Buru Pelaku
Mirza menegaskan, Gunung Anak Krakatau masih mengalami erupsi sehingga status Level III atau Siaga tetap berlaku.
"Menurunnya aktivitas bukan berarti erupsi sudah berakhir. Kita belum dapat memastikan kapan erupsi ini akan benar-benar berhenti," tegasnya.
Dia mengatakan, kapan erupsi berakhir sangat bergantung pada aktivitas gunung dan suplai magma.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


