Merajut Nusantara dari Selat Sunda, Transformasi ASDP Perkokoh Logistik Nasional

Merajut Nusantara dari Selat Sunda, Transformasi ASDP Perkokoh Logistik Nasional

Merajut Nusantara dari Selat Sunda, Transformasi ASDP Perkokoh Logistik Nasional.-Foto Ilustrasi/Foto Dokumentasi Septa Riadi-

RADARLAMPUNG.CO.ID- Deru mesin kapal feri membahana membelah gelombang Selat Sunda saat matahari terbit di ufuk timur Pelabuhan Bakauheni, Lampung.

Di perairan seluas puluhan mil laut yang menghubungkan Pulau Sumatra dan Jawa ini, denyut nadi ekonomi Indonesia berdetak tanpa henti. 

Setiap 30 menit, kapal-kapal milik PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) bertolak, mengangkut ribuan penumpang, deretan truk sembako, hingga kendaraan pribadi yang mengalir menghubungkan dua simpul pertumbuhan ekonomi terbesar di Tanah Air.

Bagi bangsa Indonesia yang ditakdirkan sebagai negara kepulauan, laut bukanlah pembatas atau pemisah. 

Sebaliknya, perairan Nusantara adalah jembatan pemersatu yang merajut ribuan pulau menjadi satu kesatuan ekonomi yang utuh dan berdaya saing tinggi. 

Visi besar inilah yang menjadi ruh utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) dalam memperkuat jalur transportasi laut nasional.

Jembatan Ekonomi Nusantara: Memperkuat Konektivitas Laut Nasional

Koridor penyeberangan Merak Bakauheni di Selat Sunda bukan sekadar lintasan penyeberangan biasa.

Koridor ini adalah tulang punggung integrasi multimodal yang menyambungkan dua koridor jalan bebas hambatan strategis: Jalan Tol Trans-Jawa di sisi Banten dan Jalan Tol Trans-Sumatra di sisi Lampung.

Pakar Ekonomi dan Manajemen Sumber Daya Kelautan dan Lingkungan, Dr. Ir. Septa Riadi, S.T.P., M.M., M.Si., menilai keberadaan jaringan infrastruktur terpadu ini telah secara drastis memangkas waktu tempuh distribusi dan mentransformasi lanskap logistik Sumatra–Jawa.

"Perairan Nusantara khususnya koridor strategis Selat Sunda antara Pelabuhan Merak dan Bakauheni seharusnya tidak diposisikan sebagai batas pemisah, melainkan sebagai jembatan pemersatu yang merajut pulau-pulau di Indonesia menjadi satu kesatuan ekonomi yang utuh," ujar Dr Septa Riadi.

Menurutnya, pada kondisi operasional normal, kapasitas angkut armada dan tata kelola pelabuhan ASDP saat ini dinilai sangat memadai. 

Keseimbangan antara mobilitas masyarakat dan kelancaran arus barang terjaga secara optimal tanpa menunjukkan indikasi beban berlebih (overloading) yang mengganggu stabilitas pasar.

Ketika periode puncak lonjakan penumpang (peak season) tiba seperti mudik Idulfitri maupun libur panjang nasional ASDP bersama Kementerian Perhubungan terbukti adaptif menerapkan strategi manajemen permintaan (demand management). 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait