Mengintegrasikan Nadi Logistik, Strategi ASDP Terapkan Zero ODOL di Penyeberangan

Mengintegrasikan Nadi Logistik, Strategi ASDP Terapkan Zero ODOL di Penyeberangan

Mengintegrasikan Nadi Logistik, Strategi ASDP Terapkan Zero ODOL di Penyeberangan. -Foto Ilustrasi/Foto Instagram@asdp191-

RADARLAMPUNG.CO.ID - Deretan armada logistik mengular tertib menuju geladak penyeberangan. 

Di balik kesibukan arus distribusi barang yang menghubungkan pulau-pulau di Nusantara, aspek keselamatan pelayaran tetap menjadi benteng utama yang tak boleh terkompromikan.

Lintasan krusial seperti Merak–Bakauheni hingga Ketapang–Gilimanuk bukan sekadar jalur lintasan harian masyarakat, melainkan urat nadi Tol Laut yang memikul beban distribusi bahan pokok dan komoditas industri nasional. 

Di tengah kompleksitas operasional pelabuhan modern, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) terus memperkuat komitmen keselamatan melalui penegakan ketat kebijakan Zero Over Dimension Over Loading (ODOL).

Menghalau Bahaya Laten di Geladak Laut

Langkah penertiban truk ODOL di pelabuhan ASDP bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan bentuk mitigasi risiko keselamatan pelayaran mendasar yang merujuk pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 103 Tahun 2017.

Di atas geladak kapal yang mengarungi gelombang laut, muatan berlebih membawa konsekuensi fatal. 

Selain mempercepat kerusakan struktur dermaga dan interior kapal, kendaraan ODOL berpotensi mengubah titik berat (center of gravity) serta mengganggu stabilitas kapal saat menghantam gelombang tinggi. 

Lebih berbahaya lagi, ukuran fisik truk yang membesar akibat modifikasi kerap menutupi jalur evakuasi darurat serta menghalangi akses sistem hydrant pemadam kebakaran.

Manajemen ASDP secara konsisten mengedukasi penyedia jasa logistik mengenai dua pelanggaran utama: Over Dimension (modifikasi fisik bak kendaraan yang melebihi standar pabrikan) dan Over Loading (bobot muatan yang melampaui Jumlah Berat yang Diizinkan/JBI).

Presisi Operasional di Lintas Ketapang–Gilimanuk

Mengawal target nasional Zero ODOL 2027, ASDP menerapkan skema penataan armada dan dermaga berbasis tonase secara terukur, salah satunya di Selat Bali.

Pembagian akses dermaga disesuaikan dengan spesifikasi teknis kendaraan. Fasilitas Movable Bridge (MB) I, II, dan III difokuskan untuk melayani kendaraan kecil, bus penumpang, serta truk logistik sedang. 

Sementara itu, armada Landing Craft Machine (LCM) dan MB IV disiagakan khusus menangani kendaraan logistik berat berbobot di atas 20 ton demi menjaga daya dukung struktur pelabuhan.

Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Heru Widodo, menegaskan bahwa kepatuhan regulasi keselamatan merupakan fondasi utama seluruh layanan penyeberangan nasional.

"Pelayanan tidak sekadar berfokus pada penguraian antrean, melainkan memastikan kepatuhan terhadap kapasitas serta spesifikasi fasilitas penyeberangan. Keselamatan seluruh pengguna jasa dan armada kapal adalah prioritas utama yang tidak dapat ditawar," tegas Heru Widodo.

Taktis Melerai Antrean melalui Sinergi Lintas Sektoral

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait