Syekh Yusuf Al-Makassari dalam Linimasa Islam Nusantara
Syekh Yusuf Al-Makasari: Jihad dan Dakwah di Dua Benua.-Foto Ilustrasi AI/radarlampung.disway.id-
RADARLAMPUNG.CO.ID- Bila kita menelisik peta perjalanan peradaban bangsa Indonesia hari ini, seringkali kita terjebak dalam memori sejarah yang bersifat sentri.
Seolah-olah denyut nadi perubahan Nusantara hanya ditentukan oleh dinamika politik di pusat kekuasaan tradisional Jawa atau Sumatra.
Padahal, jika ditarik garis lurus menembus lorong waktu abad ke-17, mozaik keislaman di bumi Nusantara justru terajut dari pergerakan para musafir ilmu, ulama, dan pejuang lintas wilayah yang merajut simpul-simpul peradaban dari ujung timur hingga barat, bahkan menyebergang ke panggung global.
Salah satu figur paling monumental dalam narasi besar tersebut adalah Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari Al-Bantani atau yang lebih akrab disapa oleh masyarakat Sulawesi Selatan sebagai Tuanta Salamaka ri Gowa (Tuan Guru Penyelamat kita dari Gowa).
Kehadiran Syekh Yusuf di dalam linimasa perkembangan agama Islam di Indonesia bukan sekadar catatan pinggir sejarah tentang seorang sufi pelarian politik.
Lebih dari itu, ia adalah representasi paripurna dari tipologi ulama Nusantara abad pertengahan yang mampu memadukan kedalaman spiritualitas tasawuf, ketajaman pemikiran syariat, serta keteguhan sikap anti-kolonialisme yang berakar pada teologi pembebasan.
Mengkaji sosok Syekh Yusuf di tengah diskursus kebangsaan kontemporer menjadi sangat relevan.
Di saat identitas keislaman di Indonesia kerap kali diuji oleh gelombang sektarianisme, polarisasi politik identitas, dan disrupsi modernitas, kembalinya kita pada keteladanan Syekh Yusuf menawarkan kompas moral yang kokoh.
Tulisan ini mencoba membedah posisi strategis Syekh Yusuf Al-Makassari dalam linimasa perkembangan Islam di Indonesia, melacak rekam jejak intelektual dan jihadnya, serta menarik benang merahnya bagi proyek kebudayaan dan keislaman kebangsaan hari ini.
Geografi Intelektual: Dari Gowa Menuju Titik Nadi Nusantara
Lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, pada 3 Juli 1626 dengan nama kecil Muhammad Yusuf, ia tumbuh di tengah transisi geopolitik Kesultanan Gowa yang sedang berada di puncak kejayaannya sebagai pusat perdagangan maritim sekaligus benteng penyebaran Islam di wilayah timur Nusantara. Sejak usia dini, gairah intelektualnya telah menyala.
Setelah mendalami dasar-dasar keislaman di tanah kelahirannya—termasuk berguru di Cikoang kepada Sayyid Syaikh Alwi Jalaluddin bin Ahmad Syekh Yusuf memutuskan untuk melakukan pengembaraan ilmiah (rihlah ilmiyah) yang luar biasa luas untuk ukuran zamannya.
Pengembaraan ini membawa Syekh Yusuf menapaki pusat-pusat peradaban Islam dunia. Selama kurang lebih dua dekade tinggal di Timur Tengah, ia tidak hanya berguru kepada ulama-ulama besar di Yaman (seperti Syekh Abdullah Muhammad bin Abd Al-Baqi), Hijaz (Mekkah dan Madinah), hingga Damaskus (Suriah), tetapi juga menyerap intisari tarekat, khususnya Tarekat Khalwatiyah, yang kelak menjadi corak utama gerakan tasawufnya.
Di sinilah letak keunikan pertama Syekh Yusuf dalam linimasa Islam di Indonesia: ia adalah prototipe ulama Nusantara yang berdialog secara setara dengan otoritas keilmuan Islam global di Timur Tengah, namun tidak pernah kehilangan kesadaran geopolitik dan ikatan emosionalnya dengan tanah asal (Nusantara).
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


