radarlampung.co.id-Analisis global baru mencatat, sekitar 100 spesies burung diperkirakan punah yang disebabkan praktik pertanian dan kehutanan saat ini. Jumlah ini meningkat 7%, selama sepuluh tahun pertama abad ini. Sebagai perbandingan, sekitar 140 burung telah hilang selama 400 tahun terakhir. Para peneliti mengatakan, faktor terbesar adalah peternakan sapi, tetapi dampak tanaman biji minyak seperti kelapa sawit dan kedelai tumbuh cepat. Peneliti internasional menggunakan kepunahan burung sebagai ukuran hilangnya keanekaragaman hayati, variasi kehidupan tumbuhan dan hewan di dunia atau di habitat tertentu, terkait dengan perdagangan internasional dalam makanan dan kayu. Penelitian ini, diterbitkan dalam jurnal, Nature Ecology Evolution, menunjukkan bahwa perdagangan internasional dapat mendorong ancaman terhadap spesies hewan jauh dari negara-negara di mana barang tersebut dikonsumsi. Rekan peneliti, Prof Henrique Pereira dari Pusat Penelitian Integritas Keanekaragaman Hayati Jerman (iDiv) di Leipzig, Jerman mengatakan, masalah hilangnya keanekaragaman hayati tidak dapat diatasi tanpa menambahkan tanggung jawab jarak jauh, yaitu orang yang bertanggung jawab atas barang yang mereka beli di supermarket. \"Kami harus memberikan lebih banyak informasi kepada konsumen tentang itu, sehingga mereka tahu apa yang mereka beli,\" katanya. \"Kita harus mengatasi pola konsumsi yang tidak berkelanjutan didorong oleh pertumbuhan ekonomi. Pilihan kita di sini akan memiliki konsekuensi di tempat lain,\" kata Co-peneliti Alexandra Marques. Para peneliti memperkirakan, jumlah spesies burung yang berisiko punah karena konversi habitat alami menjadi lahan untuk pertanian dan kehutanan antara tahun 2000 dan 2011. Mereka muncul dengan jumlah sebanyak 121 spesies burung yang diprediksi akan punah di masa depan jika tidak ada perubahan penggunaan lahan saat ini. Ariel Brunner dari kelompok konservasi, BirdLife Eropa, mengatakan penelitian ini menambah bukti yang menunjukkan bahwa sistem pangan dan pertanian yang tidak berkelanjutan adalah \"di jantung krisis ekologi - baik dalam hal mendorong keruntuhan keanekaragaman hayati dan berkontribusi terhadap iklim perubahan,\" katanya. (fin/wdi)
100 Spesies Burung Diperkirakan Punah
Rabu 06-03-2019,09:00 WIB
Editor : Widisandika
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Senin 29-06-2026,10:40 WIB
Pensiunan AKBP Disebut Ikut Diamankan Polda Lampung Bersama Delapan Debt Collector
Senin 29-06-2026,06:55 WIB
Harga Honda Vario EVO 160 Terbaru, Ini Spesifikasi dan Fitur Lengkapnya
Senin 29-06-2026,07:01 WIB
Huawei MatePad Mini Segera Masuk Indonesia, Tablet Tipis 5,2 Mm untuk Kerja dan Hiburan
Senin 29-06-2026,01:50 WIB
Senin Ceria bersama Indomaret: Camilan Penambah Semangat dengan Harga Hemat
Senin 29-06-2026,15:34 WIB
Penjualan Kendaraan Baru Melonjak, Jadi Sinyal Ekonomi Lampung Kian Bergairah
Terkini
Senin 29-06-2026,18:54 WIB
Resmikan NUSA di Pasir Sakti, PTBA Perkuat Rehabilitasi Mangrove Berbasis Masyarakat
Senin 29-06-2026,18:27 WIB
Bupati Pesawaran Nanda Indira Absen di Sidang Korupsi SPAM, Kuasa Hukum Dendi Ramadhona Minta Hadir via Zoom
Senin 29-06-2026,18:07 WIB
Jadi Kurir Ganja Lintas Provinsi, Pria Asal Pringsewu Diamankan Polisi, Ini Upah yang Dijanjikan
Senin 29-06-2026,17:59 WIB
Dukung Swasembada Jagung dan Kendalikan Inflasi, Kelompok Tani di Gadingrejo Terima Bantuan Alsintan
Senin 29-06-2026,17:53 WIB