SAYA sudah terlanjur meninggalkan Tainan. Sudah di dalam kereta. Menuju kota Kaoshiung. Kota paling Selatan di Taiwan. Tapi Adrian sempat menjawab WA saya. Ia belum libur. Meski temannya sudah pada siap-siap merayakan tahun baru Imlek. Saya bangga dengan anak Pak Lahuri ini. Pensiunan guru SD di Lumajang ini. Tepatnya di Sukodono. Sebuah desa di selatan Lumajang, Jatim. Nama lengkap anak ini: Andrian Muzakki Firmansyah. Sebenarnya Andrian sudah lulus kuliah. Tahun lalu. Dari Tainan Shoufu University (台灣首付大學). Ia sarjana desain komputer. Tapi Andrian belum mau pulang. Ingin mencari penghasilan dulu. Untuk bekal hidupnya di masa depan. Juga karena tidak tahu: kalau pulang akan kerja apa. Di mana. \"Ilmu saya ini sepertinya belum banyak diterapkan di Indonesia,\" katanya. Di kota Tainan, Andrian bekerja di perusahaan software. Membuat desain program. Saya sebenarnya ingin ketemu bosnya. Tapi saya hanya satu malam di Tainan. Hanya sempat makan mie yang warungnya berumur 100 tahun itu. Yang dapurnya pernah tidak mati api selama 30 tahun terus menerus itu. Andrian amat sibuk. Di rumahnya. Ya. Di rumahnya. Ia memang tidak perlu ngantor. Semuanya ia kerjakan di rumah yang disediakan perusahaan itu. Dengan seorang teman asli Taiwan. \"Saya baru keluar kalau ada klien perusahaan yang memanggil,\" kata Andrian. Atau kalau mau salat Jumat di masjid kampus. Rumah itu tiga kamar. Satu untuknya. Satunya lagi untuk temannya. Sedang kamar ketiga untuk tempat barang. Resminya sudah enam bulan Andrian bekerja di perusahaan itu. Pun sejak sebelum lulus ia sudah diminta kerja. Begitulah mahasiswa yang baik di sana. Ia juga jarang pulang ke Indonesia. Andrian baru pulang kalau Lebaran. Harus. Ia anak tunggal. Tapi bapak-ibunya rela anaknya bekerja di luar negeri. Hanya saja ibunya terus bertanya: kapan kawin? Umur Andrian kini 29 tahun. Belum punya pacar. Masih pilih-pilih. Belum ada yang cocok. Yang pasti ia tidak akan pacaran dengan gadis Taiwan. Ia tidak mau berpasangan dengan wanita yang kulturnya sangat berbeda. Harus gadis Lumajangkah? \"Tidak harus,\" katanya. \"Asal Indonesia,\" tambahnya. Karena itu Andrian juga belum tahu. Masa depannya akan di mana. Di Surabayakah? Tempatnya pernah kuliah di Stikom dan perhotelan dulu? Atau di Jakarta? Bagi saya di mana saja. Tergantung jodoh saya nanti,\" katanya. \"Yang jelas tidak di Taiwan.\" Andrian mulai mengenal komputer sejak SMAN 2 Lumajang. Laboratorium sekolahnya menyediakan komputer. Di situlah ia mengenal program WS, internet dan chatting. Ia berani chatting dengan orang luar negeri. Dalam bahasa Inggris. Setamat SMA Andrian kuliah di Stikom Surabaya. Ikut-ikutan teman, katanya. Tapi ia tidak krasan. Kemampuan komputernya sudah di atas mata kuliah. Semester 4 Andrian men-DO-kan diri. Ingin jadi enterpreneur. Yang lagi \'in\' di kalangan mahasiswa saat itu. Tapi, katanya, ternyata sulit. Ia pindah jalur. Kuliah di perhotelan. Lalu kerja di hotel. Pernah di Shangrila Surabaya. Sebentar. Di hotel itulah Andrian kenal banyak orang. Termasuk tamu-tamu Tionghoa. Ia mulai tertarik belajar bahasa Mandarin. Ia cari tempat kursus yang intensif. Tapi murah. Ditemukanlah ITCC. Dua tahun Andrian kursus Mandarin di yayasan yang saya pimpin itu. Lalu mendapat bea siswa ke Taiwan. Kenapa tidak ke Tiongkok? Tawaran yang di Tiongkok jurusan pendidikan. Saya ingin memperdalam komputer,\" katanya. Selama di Taiwan Andrian sudah menghasilkan 15 program. Atas penugasan perusahaan. Bersama temannya itu. Semua program yang ia buat dalam bahasa Mandarin. Berarti kemampuan Mandarinnya hebat. \"Tidak juga lah,\" katanya merendah. \"Bahasa program kan tidak banyak,\" tambahnya. Ternyata saya juga hanya satu malam di Kaoshiung. Besoknya naik kereta lagi. Ke Hualien. Ke pusatnya agama Budha Tzu Chi. Yang keretanya bukan jenis yang cepat. Belum ada kereta cepat di jalur Kaoshiung-Hualien. Lokomotifnya masih pakai diesel. Tidak ada wifi di dalamnya. Tidak ada colokan untuk charger HP. Kalah dengan bus. Yang selalu menyediakan wifi berkecepatan tinggi. Misalnya saat saya naik bus dari Taipei ke Taichung. Lalu, keesokan harinya, naik bus lagi. Dari Taichung ke Tainan. Wifinya sangat menggoda. Saking cepatnya. Saya sempat berharap di kereta pun demikian. Dari Tainan ke Kaoshiung saya naik kereta express. Ternyata tidak ada wifi. Maka saat dari Kaoshiung ke Hualien saya tidak berharap lagi. Jadi tidak kecewa. Harapan itu muncul lagi saat saya naik kereta cepat. Dari Hualien ke Taipei kemarin. Siapa tahu di kereta cepat sudah lebih modern. Ternyata sama saja. Tapi baik juga tidak ada wifi. Sesekali puasa HP. Setidaknya selama lima jam.(dis)
Andrian
Senin 04-02-2019,07:00 WIB
Editor : Widisandika
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Kamis 29-10-2026,14:04 WIB
Rekomendasi Motor Listrik Handal Buat Driver Ojol Modern, Performa Maksimal Biar Narik Jadi Makin Nyaman
Kamis 29-10-2026,15:04 WIB
Performa Konsisten Tanpa Colokan, Lenovo K14 Gen 3 Jawab Kebutuhan Lembur Kantor
Kamis 29-10-2026,13:01 WIB
Cristiano Ronaldo Kalahkan Messi dalam Voting Ballon d'Or Terbaik Sepanjang Masa Versi Penggemar
Kamis 29-10-2026,11:06 WIB
Sambut Periode Gajian, Alfamart Tebar Diskon Spesial Minuman Favorit Bean Spot Oktober
Kamis 29-10-2026,11:06 WIB
Update Harga Emas Antam Hari Ini: Seluruh Pecahan Batangan Alami Penurunan Nilai Cukup Tajam
Terkini
Jumat 30-10-2026,07:59 WIB
Jangan Buang Struk Belanjamu! Order Minimal 20 Ribu di KFC Langsung Dapat 2 Voucher Diskon 50 Persen
Jumat 30-10-2026,06:47 WIB
Tren Video Pendek Jadi Peluang Baru bagi Pelaku Usaha
Jumat 30-10-2026,06:38 WIB
Saat Situasi Sulit Datang Menguji, Perlindungan Garda Oto Jadi Pintu Kepercayaan Membangun Ketenangan
Kamis 29-10-2026,17:30 WIB
Syekh Yusuf Al-Makassari dalam Linimasa Islam Nusantara
Kamis 29-10-2026,15:04 WIB