RADARLAMPUNG.CO.ID - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim berencana akan menghapus ujian nasional pada 2021, dan menggantinya dengan asesment kompetensi. Wacana tersebut pun mendapatkan tanggapan dari berbagai kalangan, seperti salah satu siswa SMK di Bandarlampung Nabila. Ia mengatakan, jika UN ditiadakan, dirinya menjadi lebih tenang. Sebab, jika masih ada UN, harus belajar terus, dan menimba ilmu di tempat lain, seperti di tempat les, karena takut akan mendapatkan nilai kecil. \"Kalau UN kan jadi leslah, belajar terus, takut nilainya kecil, takut juga nilai rata-rata ijazahnya kecil,\" ujarnya. Hal lain disampaikan Naufal Rizky, siswa SMA di Bandarlampung. Kebijakan dihapusnya Ujian Nasional (UN) dinilai kurang tepat untuk di realisasikan saat ini. Menurutnya, penerapan UN di Indonesia tidak sepenuhnya salah. UN memiliki efek yang besar untuk menilai standar pencapaian siswa dan juga sebagai proses evaluasi kompetensi siswa di sekolah. UN sendiri sudah melekat pada sistem pendidikan di Indonesia. \"Saya kira penerapan kebijakan asesmen kompetensi akan sangat rumit untuk diterapkan. Mungkin, Kemendikbud cukup menghapus soal-soal HOTS (Higher Order Thingking Skill, red ) di dalam penyusunan soal-soal Ujian Nasional. Karena soal HOTS perlu daya nalar siswa yang sangat tinggi, jadi kita susah untuk jawabnya,\" ungkapnya. Hal itu juga mendapat tanggapan dari salah satu akademisi Unila Undang Rosidin. Menurutnya, Indonesia masih belum siap untuk menghilangkan UN, sebab UN menjadi motivasi belajar bagi siswa, dan tolak ukur kemampuan siswa. \"Karena ada ujian, siswa itu kan jadi mau belajar. Kalau tak ada ujian mana mau siswa belajar. UN juga berfungsi sebagai pengukur kemampuan siswa,\" katanya, Jumat (13/12). Dikatakannya, UN dilakukan secara nasional untuk membantu pemerintah memetakan kualitas pendidikan di Indonesia. Dengan adanya UN, dinilai sekolah dan siswa dapat mengetahui dan mengukur kemampuan mereka. Undang menuturkan, wacana penghapusan UN sudah muncul sejak lama. Sebab, banyak pihak yang meragukan integritasnya, mulai dari kekhawatiran adanya kebocoran soal, tapi sekarang sudah bisa teratasi dengan adanya sistem komputer. \"Kalau dulu memang dikhawatirkan adanya kebocoran soal karena masih menggunakan lembar kertas. Tapi sekarang sudah berbasis komputer, jadi integritasnya bisa terjamin,\"tukasnya. Ia menambahkan, UN hanya perlu dibenahi dan ditata kembali. \"Saya tidak sepakat kalau UN ini mau dihapus, tapi ke depannya harus ada pembenahan dan penataan lagi,\"pungkasnya. (rur/ang)
UN Hanya Perlu Perbaikan dan Peningkatan
Jumat 13-12-2019,19:55 WIB
Editor : Anggri Sastriadi
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Rabu 28-10-2026,12:31 WIB
Menjelajah Nusantara Tanpa Emisi Bersama Transisi Energi PLN
Rabu 28-10-2026,17:58 WIB
Tim PKM FK Unila Kembangkan Sabun Kembang Telang di Lampung Selatan
Rabu 28-10-2026,12:41 WIB
Bikin Malu! Arsenal Tersingkir di Piala Liga Inggris Usai Dihantam Klub Divisi Empat Fleetwood Town FC
Rabu 28-10-2026,10:37 WIB
64 Tim Pelajar Adu Ketangkasan di Turnamen Futsal dan Basket Bandar Lampung
Terkini
Rabu 28-10-2026,21:26 WIB
Di Tengah Riuhnya Disrupsi, Konsistensi Pelayanan Bluebird Jadi Fondasi Kenyamanan Pelanggan
Rabu 28-10-2026,17:58 WIB
Tim PKM FK Unila Kembangkan Sabun Kembang Telang di Lampung Selatan
Rabu 28-10-2026,12:41 WIB
Bikin Malu! Arsenal Tersingkir di Piala Liga Inggris Usai Dihantam Klub Divisi Empat Fleetwood Town FC
Rabu 28-10-2026,12:31 WIB