“Kami mulai dari eksplorasi, salah satunya dengan seismik 2D, untuk memastikan keberadaan cekungan yang berpotensi menghasilkan hidrokarbon,” ujarnya.
Data sekunder menunjukkan indikasi migas di Lampung. Tapi, kata Nanang, butuh data primer seperti seismik 2D untuk mengetahui potensi sebenarnya—baik keberadaan cekungan maupun volume hidrokarbon yang bisa dikembangkan secara komersial.
Jika data seismik menjanjikan, tahap selanjutnya bisa berupa seismik 3D atau bahkan pengeboran eksplorasi.
“Pengeboran ini biayanya besar, kedalaman bisa 2.000–3.000 meter. Karena itu, harus dipastikan dulu agar tak terjadi dry hole,” kata Nanang.
BACA JUGA:Waskita Karya Bantu UMKM Naik Kelas Melalui Dukungan Penciptaan Lapangan Kerja
Survei seismik 2D ini ditargetkan rampung dalam enam bulan, mulai Desember 2025 hingga Agustus 2026. Tapi, pelaksanaan di lapangan tetap bergantung pada kondisi.