Ustadz Adi Hidayat juga menjelaskan bahwa dalam tingkatan penilaian hadis, matruk termasuk kategori yang buruk, sedangkan yang paling buruk adalah maudhu, yaitu hadis palsu yang dibuat buat.
Catatan kelemahan pada riwayat ini dijelaskan dalam berbagai ulasan takhrij.
Salah satu jalur yang sering disebut terkait tema pembagian Ramadan ini memuat perawi yang dikritik keras oleh ulama hadis.
BACA JUGA:Dalil Hadis Bersiwak Saat Puasa, Ini Penilaian Ulama Sekaligus Cara Mengamalkan
Ada yang dinilai munkarul hadits dan ada yang dinilai matruk.
Istilah seperti munkar dan matruk menunjukkan bahwa riwayatnya rapuh dan tidak bisa dijadikan sandaran utama untuk menetapkan klaim yang tegas.
Pada jalur lain, disebut pula adanya perawi yang dinilai dhaif oleh banyak ulama, sehingga jalur tersebut tidak cukup kuat untuk mengangkat riwayat menjadi kokoh.
Selain persoalan sanad, Ustadz Adi Hidayat juga mengingatkan sisi pemahaman.
BACA JUGA:Dalil Hadis Tentang Mustajabnya Doa Orang Berpuasa, Ini Riwayatnya
Jika ungkapan ini disampaikan tanpa penjelasan, sebagian orang dapat salah paham.
Seolah rahmat hanya ada di awal Ramadan, ampunan hanya ada di pertengahan, dan pembebasan dari neraka hanya ada di akhir.
Padahal, semangat ajaran Islam menegaskan bahwa peluang rahmat dan ampunan Allah terbuka sepanjang Ramadan.
Oleh karena itu, menurut Ustadz Adi Hidayat, substansi Ramadan tidak boleh dipersempit oleh pembagian yang justru berpotensi menyesatkan pemahaman.
BACA JUGA:Dalil Hadis Tentang Penyebutan Ramadan, Ini Penjelasan Ulama dan Kesimpulan Hukumnya
Dari uraian tersebut, pembaca dapat memahami bahwa kalimat awal Ramadan rahmat, pertengahan ampunan, dan akhir pembebasan dari neraka tidak bisa dipastikan sebagai hadis yang kuat.
Bila ingin mengambil nilai motivasinya, cara aman adalah tidak menyampaikannya dengan redaksi pasti Rasulullah bersabda.