Nyamuk di Rajabasa Nyunyai Ditemukan Resisten, Ini Upaya Pencegahan DBD Oleh Diskes

Nyamuk di Rajabasa Nyunyai Ditemukan Resisten, Ini Upaya Pencegahan DBD Oleh Diskes

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung Muhtadi Arsyad. -Foto Dok.Radar Lampung-

RADARLAMPUNG.CO.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandar Lampung mengungkapkan temuan adanya nyamuk Aedes aegypti yang telah resisten atau kebal terhadap jenis insektisida tertentu di Kelurahan Rajabasa Nyunyai, Kecamatan Rajabasa.

Wilayah tersebut juga masuk dalam kategori kelurahan endemis demam berdarah dengue (DBD), yakni daerah yang setiap tahun selalu ditemukan kasus DBD.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung Muhtadi A. Tumenggung mengatakan, temuan tersebut diperoleh berdasarkan hasil penelitian laboratorium entomologi kesehatan Bengkulu ada di wilayah Rajabasa Nunyai.

"Hasil penelitian menunjukkan pada titik tertentu di Rajabasa Nyunyai ditemukan populasi nyamuk yang sudah resisten terhadap bahan kimia atau insektisida tertentu karena digunakan terus-menerus tanpa dilakukan rotasi," kata Muhtadi, Selasa, 4 Agustus 2026.

Menurutnya, penelitian itu juga menemukan virus dengue telah berada di dalam tubuh nyamuk sehingga potensi penularan kepada manusia menjadi lebih cepat ketika terjadi gigitan.

"Kondisi ini menjadi perhatian karena efektivitas penggunaan insektisida bisa menurun apabila masyarakat memakai jenis yang sama dalam waktu lama," ujarnya.

Muhtadi menjelaskan, dari 126 kelurahan di Kota Bandar Lampung, sebanyak 68 kelurahan berstatus endemis DBD, 55 kelurahan tergolong sporadis, dan tiga kelurahan masih bebas kasus dalam beberapa tahun terakhir.

Tiga kelurahan yang masih bebas kasus DBD yakni  Bumi Raya, Jagabaya 1, dan Talang.

Ia menyebut Rajabasa Nyunyai merupakan salah satu wilayah dengan kasus DBD cukup tinggi. Pada 2025, kelurahan tersebut mencatat 19 kasus, sementara Segalamider menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak, yakni 22 kasus.

"Rajabasa Nyunyai memang menjadi salah satu wilayah yang rutin mencatat kasus DBD setiap tahun sehingga masuk kategori endemis," jelasnya.

Muhtadi menuturkan, tingginya kasus DBD di Bandar Lampung dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya kepadatan permukiman yang membuat jarak terbang nyamuk semakin mudah menjangkau rumah-rumah warga, serta tingginya mobilitas penduduk dari dan ke luar daerah.

BACA JUGA:Damkar Metro Catat 321 Aksi Penyelamatan Sepanjang 2026

Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Kota Bandar Lampung telah melengkapi seluruh puskesmas dengan alat pemeriksaan darah untuk mendeteksi DBD sejak dini sehingga pasien dapat segera memperoleh penanganan.

Selain itu, fogging tetap dilakukan ketika ditemukan kasus, meski bukan menjadi solusi utama dalam pengendalian DBD.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: