Anomali Iklim dan Ancaman Karhutla di Lampung: Ratusan Titik Panas Mengepung di Tengah Bayang-Bayang El Nino?
Prediksi Anomali Suhu Permukaan Laut (SST) BMKG Periode Oktober 2026–Maret 2027. Perairan Indonesia yang diprediksi baru mulai menghangat pada Desember 2026 mengonfirmasi penyebab mundurnya awal musim hujan di sebagian besar wilayah Lampung hingga akhir t-Foto BMKG-
RADARLAMPUNG.CO.ID- Provinsi Lampung kini berada di garis depan ancaman bencana ekologis ganda. Hasil analisis data klimatologi dan penginderaan jauh satelit milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa wilayah Sai Bumi Ruwa Jurai tidak hanya sedang dicengkeram oleh fenomena anomali iklim global El Nino sangat kuat, tetapi juga mulai dikepung ratusan titik panas (hotspot) pembakaran hutan dan lahan.
Berdasarkan dokumen pemantauan titik panas BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Radin Inten II Lampung tertanggal 30 September 2026, terdeteksi sebanyak 265 hotspot yang terfilter di seluruh wilayah Provinsi Lampung.
Periode data aktif yang terekam sepanjang 29 September 2026 pukul 00.00 hingga 23.59 WIB tersebut mengindikasikan lonjakan signifikan aktivitas pembakaran atau potensi kebakaran lahan di berbagai kawasan perkebunan dan hutan.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Radin Inten II Lampung, Rudi Harianto, mengungkapkan bahwa fenomena maraknya titik panas ini berkolerasi erat dengan kondisi dinamika atmosfer global yang sangat ekstrem.
Menurutnya, anomali suhu permukaan laut yang dipantau BMKG menunjukkan keberadaan El Nino dengan intensitas yang tidak biasa pada sepanjang tahun 2026.
"Data pemutakhiran dasarian II September 2026 menunjukkan nilai anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 periode Juli-Agustus-September (JAS) mencapai angka +2.63. Ini secara eksplisit menandakan hadirnya fenomena El Nino event dengan kategori Sangat Kuat," kata Rudi Harianto saat memberikan keterangannya kepada Radar Lampung Rabu (30/9/2026).
Rudi menjelaskan bahwa kondisi El Nino Sangat Kuat ini tidak berdiri sendiri.
Anomali di Samudra Hindia juga merekam Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada angka +0.935 pada dasarian II September 2026, di mana diprediksi berpeluang terus bertahan dalam fase Positif hingga pengujung tahun 2026.
Kombinasi El Nino Sangat Kuat dan IOD Positif ini secara drastis menekan pertumbuhan awan-awan hujan di atas wilayah Indonesia, khususnya Lampung.
Dampak dari anomali iklim ekstrem ini tecermin dari distribusi dan tingkat kepercayaan (confidence) 265 titik panas yang tersebar di wilayah Lampung.
BMKG merinci, dari total 265 hotspot tersebut, sebanyak 39 titik memiliki tingkat kepercayaan Tinggi (High), 223 titik berada pada tingkat kepercayaan Sedang (Medium), dan hanya 3 titik yang berada pada tingkat kepercayaan Rendah (Low).
Spasial pemetaan data hotspot memperlihatkan konsentrasi terbanyak berada di wilayah utara dan timur Lampung.
Kabupaten Tulang Bawang menjadi daerah penyumbang hotspot terbanyak di Provinsi Lampung dengan total mencapai 102 titik, disusul oleh Kabupaten Mesuji dengan 55 titik.
Kedua wilayah ini dikenal memiliki hamparan perkebunan, lahan gambut, serta kawasan pertanian meluas yang sangat rentan terbakar saat dilanda kekeringan panjang.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


