Polinela Berdayakan Koperasi Ragom Maju Jejama Kemiling Lewat Budidaya Maggot

Polinela Berdayakan Koperasi Ragom Maju Jejama Kemiling Lewat Budidaya Maggot

Polinela Berdayakan Koperasi Ragom Maju Jejama Kemiling Lewat Budidaya Maggot.-Foto Tim Polinela For Radar Lampung-

RADARLAMPUNG.CO.ID– Tim Pengabdian kepada Masyarakat Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menerapkan teknologi budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF) bersama Koperasi Ragom Maju Jejama di Kemiling, Bandar Lampung.

Kegiatan yang didanai melalui DIPA Polinela Tahun 2026 ini bertujuan mengolah sampah organik menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus mendukung kemandirian pakan ikan bagi pembudidaya lokal.

Tim pengabdian masyarakat ini diketuai oleh Dr.Nur Indariyanti, S.Pi., M.Si., dengan anggota Dian Febriani, S.Pi., M.Si., Dr. Nuning M. Noor, S.Pi., M.Si., Juli Nursandi P., S.Pi., M.Si., dan Sari Rahayu, S.E., M.P.

Ketua Tim Pengabdian Polinela, Dr.Nur Indariyanti, S.Pi., M.Si., menjelaskan bahwa pemanfaatan sampah organik melalui budidaya BSF tidak hanya berorientasi pada pengurangan limbah lingkungan, melainkan juga pada pengembangan sumber bahan baku pakan yang berkelanjutan.

"Dengan pengelolaan yang tepat, masyarakat dapat mengubah limbah menjadi sumber daya produktif yang mendukung kegiatan budidaya perikanan," ujar Nur Indariyanti

Rangkaian kegiatan dilaksanakan secara komprehensif mulai dari sosialisasi, pelatihan, praktik langsung, hingga pendampingan. Peserta dibekali keterampilan mengenai pemilahan sampah organik sebagai media pakan, persiapan media budidaya, pengelolaan telur dan larva BSF, pemeliharaan hingga panen, serta pengolahan maggot menjadi bahan baku pakan.

Tekan Sampah Organik dan Dongkrak Produksi

Hasil dari program pendampingan ini menunjukkan capaian yang sangat positif. Volume sampah organik yang belum termanfaatkan di lingkungan sekitar berhasil ditekan secara signifikan dari 150 kilogram per hari menjadi 50 kilogram per hari, atau berkurang sebesar 66,67 persen.

Di sisi lain, tingkat produksi maggot mengalami lonjakan signifikan. Dari yang sebelumnya hanya menghasilkan 20 kilogram per siklus, kini meningkat menjadi 38 kilogram per siklus, atau naik sebesar 90 persen.

Tak hanya itu, pemahaman dan keterampilan peserta juga mengalami peningkatan pesat.

Nilai evaluasi pengetahuan anggota koperasi melonjak dari 55 persen sebelum pelatihan menjadi 95 persen setelah mengikuti seluruh rangkaian pendampingan.

Hasilkan Tepung Maggot dan Kasgot

Selain menghasilkan maggot segar, kegiatan pengabdian ini juga berhasil memproduksi dua produk turunan bernilai tambah, yaitu tepung maggot dan kasgot (bekas maggot).

Tepung maggot berpotensi besar dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif pakan ikan guna mengurangi ketergantungan pembudidaya pada pakan konvensional yang harganya cenderung tinggi. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait