Wagub Datangi Rumah Buruh Bangunan, Sekolah Rakyat Buka Harapan Baru bagi Dua Bersaudara
Wagub Jihan Nurlela kunjungi kediaman calon peserta didik Sekolah Rakyat Permanen Provinsi Lampung di Telukbetung Utara.---Foto: Prima Imansyah Permana/ Radarlampung.co.id.---
RADARLAMPUNG.CO.ID – Di sebuah rumah sederhana di Gang Cempaka Kuning, Kelurahan Kupang Teba, Kecamatan Telukbetung Utara, Kamis 2 Juni 2026, senyum haru terpancar dari wajah Parsilah (55).
Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai tukang urut panggilan itu tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya ketika Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, datang langsung mengunjungi keluarganya.
Kunjungan tersebut bukan sekadar silaturahmi. Pemerintah Provinsi Lampung ingin memastikan kesiapan calon peserta didik Sekolah Rakyat Permanen Provinsi Lampung menjelang dimulainya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada 14 Juli 2026 sekaligus melihat langsung kondisi keluarga yang akan menjadi bagian dari program pendidikan tersebut.
Di tengah keterbatasan ekonomi, keluarga Parsilah dan suaminya, Sudarto (65), yang bekerja sebagai buruh bangunan, akhirnya melihat secercah harapan. Dua dari enam anak mereka diterima di Sekolah Rakyat Permanen Provinsi Lampung di Kota Baru, Kabupaten Lampung Selatan.
BACA JUGA:Sinergi Pendidikan Tinggi di Lampung, Rektor Unila Hadiri Sertijab Rektor Itera Periode 2026–2030
Sang kakak, Dewi Nurhafizah (16), akan menempuh pendidikan jenjang SMA dengan cita-cita menjadi prajurit Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad). Adiknya, Edi Qurniawan (12), akan melanjutkan pendidikan di SMP dan bercita-cita menjadi dokter.
Bagi keluarga sederhana yang juga mengandalkan warung kecil di rumah untuk menambah penghasilan, kesempatan tersebut terasa seperti mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan.
Dengan mata berkaca-kaca, Parsilah mengaku tak pernah membayangkan kedua anaknya bisa memperoleh pendidikan berkualitas tanpa harus terbebani biaya yang selama ini menjadi kekhawatiran keluarga.
"Alhamdulillah saya dapat dukungan dari Pemerintah Kota Bandar Lampung sama Bu Lurah. Sekarang anak saya bisa masuk Sekolah Rakyat. Saya sangat, bukan senang lagi, pokoknya luar biasa. Saya senang sekali karena mungkin cita-cita anak saya bisa mulai berjalan dari sini," ujarnya.
BACA JUGA:FKIP Unila Go International, Hadirkan 11 Pakar Dunia Lewat International Lecturer Program
Ia mengisahkan, sebelumnya salah satu anaknya sempat mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan di sebuah yayasan di Pulau Jawa. Namun kondisi ekonomi keluarga membuat rencana tersebut sulit diwujudkan.
Selain biaya perjalanan yang cukup besar, Parsilah mengaku berat harus berpisah jauh dengan anaknya.
"Kalau saya kangen, di Sekolah Rakyat ini saya masih bisa datang menjenguk. Dulu anak saya mau dibawa ke yayasan di Jawa. Saya merasa berat karena ongkosnya juga berat. Sekarang alhamdulillah lebih dekat," katanya.
Kebahagiaan keluarga itu turut dirasakan Jihan Nurlela. Menurutnya, Sekolah Rakyat hadir untuk memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap memiliki kesempatan yang sama dalam meraih masa depan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


