Kejar Peningkatan HLS dan RLS, Pemprov Lampung Siapkan Sejumlah Upaya
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung, Thomas Amirico.---Foto: Prima Imansyah Permana/ Radarlampung.co.id.---
RADARLAMPUNG.CO.ID – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung menyiapkan serangkaian langkah untuk meningkatkan Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) yang masih tertinggal secara nasional.
Mulai dari penghapusan uang komite sekolah, penambahan ruang kelas dan rombongan belajar, pembukaan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ), SMA Terbuka, hingga program Satu Desa Satu Sarjana disiapkan untuk mengatasi rendahnya motivasi sekolah dan tingginya angka putus sekolah.
Dimana, berdasarkan data yang didapat Harapan Lama Sekolah (HLS) Provinsi Lampung pada 2025 mencapai 12,79 tahun, angka tersebut masih menempatkan Lampung di peringkat 31 dari 38 provinsi di Indonesia.
Sementara itu, Rata-rata Lama Sekolah (RLS) penduduk Lampung baru mencapai 8,61 tahun atau setara jenjang SMP, sehingga berada di peringkat 28 nasional.
BACA JUGA:Pendidikan di Lampung Tunjukkan Tren Positif, RLS dan HLS Terus Meningkat dalam Satu Dekade
Kondisi ini menunjukkan masih terdapat selisih sekitar 4,18 tahun antara harapan lama sekolah dengan realisasi pendidikan yang ditempuh masyarakat.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Lampung, Thomas Amirico, mengatakan peningkatan kedua indikator tersebut tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat, melainkan membutuhkan proses sekitar tiga hingga lima tahun.
"Proses meningkatkan angka ini memakan waktu tiga sampai lima tahun. Langkah-langkah yang kami lakukan didasarkan pada data yang ada," ujar Thomas saat dihubungi Radarlampung.co.id, Senin 6 Juli 2026.
Menurutnya, salah satu penyebab masih rendahnya HLS adalah minimnya motivasi sebagian anak untuk melanjutkan pendidikan, terutama di sejumlah wilayah pedesaan.
BACA JUGA:Status Anak Krakatau Siaga, Video Erupsi Viral Dipastikan Hoaks
Banyak siswa memilih langsung bekerja setelah lulus SMP karena sudah dapat memperoleh penghasilan.
"Setelah kami telusuri, memang banyak anak-anak yang tidak memiliki motivasi tinggi dan mimpi yang besar. Kebanyakan mereka lebih nyaman langsung bekerja setelah tamat SMP. Budaya dan pola pikir seperti inilah yang harus kita ubah, karena satu-satunya cara meningkatkan kualitas hidup adalah melalui pendidikan," katanya.
Thomas menilai perubahan pola pikir masyarakat menjadi salah satu kunci untuk mendorong anak-anak memiliki cita-cita lebih tinggi, minimal menyelesaikan pendidikan hingga SMA.
Selain persoalan motivasi, faktor ekonomi juga masih menjadi penyebab tingginya angka putus sekolah setelah jenjang SMP.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


