HKTI Minta Petani Lampung Gunakan Benih Bersertifikat, Jangan Tergiur Bibit Murah di Marketplace
Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional (DPN) HKTI Abdul Kadir Karding.---Foto: Prima Imansyah Permana/ Radarlampung.co.id.---
RADARLAMPUNG.CO.ID – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) mengingatkan para petani di Lampung agar tidak tergiur membeli benih tanaman dengan harga murah melalui marketplace atau platform e-commerce.
Benih yang tidak bersertifikat berisiko menyebabkan kerugian besar karena kualitasnya tidak terjamin.
Pesan tersebut menjadi salah satu poin penting yang disampaikan Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional (DPN) HKTI Abdul Kadir Karding saat menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) HKTI Provinsi Lampung 2026 di Balai Keratun, Bandarlampung, Jumat 31 Juli 2026.
Karding yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Karantina Indonesia mengungkapkan, pihaknya baru saja memusnahkan sekitar 95 ribu benih kelapa sawit ilegal yang beredar di masyarakat.
BACA JUGA:Progres Tembus 50 Persen, Proyek Jalan Dana Pinjaman Pemprov Lampung Target PHO September
Menurutnya, benih tersebut banyak dipasarkan secara bebas melalui berbagai platform digital tanpa melalui proses sertifikasi maupun pengawasan pemerintah.
"Benih ini tidak bisa dipertanggungjawabkan kualitasnya. Banyak dibeli melalui e-commerce, padahal hasil penelitian menunjukkan benih tersebut sangat merugikan petani," ujarnya.
Ia menjelaskan, dampak penggunaan benih ilegal tidak langsung terlihat. Petani baru mengetahui kualitas benih setelah tanaman berumur tiga hingga empat tahun.
Akibatnya, tanaman tidak berbuah atau menghasilkan buah yang kualitasnya tidak memenuhi standar industri maupun ekspor.
BACA JUGA:Dirolling, Pejabat Baru Pringsewu Diminta Jauhi KKN
"Bayangkan petani sudah mengeluarkan biaya besar dan menunggu bertahun-tahun, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan. Ini tentu menjadi kerugian yang sangat besar," katanya.
Karena itu, HKTI mengimbau masyarakat, khususnya petani, agar membeli benih dari produsen atau penyalur resmi yang memiliki sertifikasi sehingga mutu benih terjamin.
Selain mengingatkan soal benih, HKTI juga mengajak petani mulai beradaptasi dengan teknologi pertanian modern untuk meningkatkan produktivitas.
Menurut Karding, penggunaan alat dan teknologi pertanian saat ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan agar sektor pertanian Indonesia mampu bersaing.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


