74 Titik Panas Terdeteksi di TNWK, WALHI Desak Evaluasi Sistem Pencegahan
WALHI Lampung sorotan kebakaran di TNWK.---Sumber foto : WALHI.---
RADARLAMPUNG.CO.ID - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Lampung menilai kebakaran yang kembali melanda kawasan konservasi Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, harus menjadi momentum evaluasi serius terhadap sistem perlindungan dan pencegahan kebakaran.
Sorotan itu mencuat setelah analisis spasial WALHI Lampung terhadap data hotspot satelit Terra, Aqua, N20, N21 dan SNPP menemukan sedikitnya 74 titik panas atau hotspot di dalam kawasan TNWK sepanjang 17-22 Agustus 2026.
Titik panas tersebut tersebar di sejumlah bagian kawasan, termasuk wilayah tengah hingga selatan TNWK, khususnya Resort Kuala Penet.
Sementara berdasarkan informasi Kementerian Kehutanan, kebakaran yang terjadi sejak Jumat 21 Agustus 2026 di wilayah Resort Kuala Penet, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Kuala Penet, diperkirakan telah berdampak terhadap sekitar 673 hektare kawasan.
BACA JUGA:Rakernas I APTISI di Lampung: Menteri Diktisaintek Dorong Lulusan PTS Tembus Pasar Kerja Global
Luasan tersebut masih bersifat sementara dan perlu diverifikasi lebih lanjut di lapangan.
Direktur WALHI Lampung Irfan Tri Musri mengatakan, kebakaran di TNWK tidak bisa hanya dilihat sebagai bencana musiman yang selesai setelah api berhasil dipadamkan.
Menurutnya, berulangnya kebakaran di kawasan konservasi tersebut justru harus mendorong pemerintah mempertanyakan efektivitas sistem pencegahan yang selama ini diterapkan.
“Pertanyaannya bukan hanya kapan api berhasil dipadamkan, tetapi mengapa api terus muncul, siapa yang bertanggung jawab, aktivitas apa yang menjadi pemicunya, dan mengapa sistem pencegahan tidak mampu menghentikan kejadian tersebut sejak awal,” kata Irfan melalui rilisnya yang diterima Radarlampung.co.id, Minggu 23 Agustus 2026.
BACA JUGA:Rumah Mengaji Hangus Terbakar, Anak-anak Bermain Api Jadi Pemicu?
Ia menilai Kementerian Kehutanan perlu melakukan evaluasi terhadap kinerja Balai Taman Nasional Way Kambas, terutama karena karakter kawasan yang memiliki bagian bergambut, sulit diakses dan sumber air yang relatif jauh dari lokasi kebakaran.
Kondisi tersebut, kata dia, seharusnya sudah menjadi dasar dalam membangun sistem mitigasi yang lebih kuat sebelum kebakaran terjadi.
WALHI Lampung mengapresiasi petugas, masyarakat, Masyarakat Peduli Api serta seluruh pihak yang terlibat dalam upaya pemadaman. Namun, pengerahan ratusan personel setelah api meluas tidak semestinya menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan pengelolaan kawasan.
“Ukuran utama keberhasilan seharusnya adalah seberapa efektif kebakaran dapat dicegah sebelum ratusan hektare kawasan konservasi terbakar,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


