Malu Lapor Bikin Uang Makin Sulit Diselamatkan, OJK Lampung Ingatkan Korban Scam

Malu Lapor Bikin Uang Makin Sulit Diselamatkan, OJK Lampung Ingatkan Korban Scam

Kepala OJK Provinsi Lampung Otto Fitriandy.---Foto: Prima Imansyah Permana/ Radarlampung.co.id.---

RADARLAMPUNG.CO.ID – Sudah menjadi korban penipuan, tetapi masih malu untuk melapor. Kondisi inilah yang justru dikhawatirkan membuat uang korban semakin sulit diselamatkan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung mengingatkan masyarakat agar tidak menunda laporan ketika menjadi korban penipuan atau scam

Sebab, laporan yang dilakukan dengan cepat membuka peluang untuk melakukan pemblokiran rekening yang digunakan pelaku sebelum dana berpindah lebih jauh.

Kepala OJK Provinsi Lampung Otto Fitriandy mengatakan, masih banyak korban yang memilih diam karena malu mengakui dirinya tertipu. Sebagian lainnya takut laporan tidak akan membuat uang mereka kembali.

BACA JUGA:Lebih 50 Ton Gabah Diputar Balik di Bakauheni, Pemprov Lampung Perketat Pengawasan dari Daerah Asal

Padahal, kata Otto, melapor tetap penting meski tidak ada jaminan seluruh uang korban dapat kembali.

“Korban sering kali tidak mau melapor karena malu, atau takut laporannya malah membuat uangnya tidak kembali. Padahal, dengan melapor, masih ada harapan untuk meminimalkan kerugian melalui pemblokiran rekening pelaku kejahatan tersebut,” kata Otto saat diwawancarai, Kamis 3 September 2026.

Untuk kasus penipuan atau scam, masyarakat diarahkan melakukan pelaporan melalui Indonesia Anti-Scam Center (IASC).

Kecepatan menjadi hal penting. Ketika laporan segera masuk, terdapat peluang rekening yang digunakan pelaku dapat ditindaklanjuti dan diblokir sehingga kerugian korban bisa ditekan.

BACA JUGA:Tahan Banting dan Anti Air! Ini 7 HP Tangguh Murah Terbaik 2026 yang Sangat Cocok untuk Aktivitas Ekstrem

“Kalau masyarakat menjadi korban penipuan, mereka bisa segera melapor ke sana untuk meminimalkan kerugian. Misalnya dengan segera melakukan pemblokiran rekening pelaku yang dilaporkan oleh korban,” ujarnya.

Menurut Otto, persoalan scam tidak hanya menyasar anak muda. Korbannya acak dan bisa berasal dari berbagai kelompok usia, termasuk orang tua.

Pelaku biasanya menyebarkan pesan SMS atau WhatsApp secara acak. Dari banyak pesan yang dikirim, pelaku hanya membutuhkan sebagian penerima yang terpancing untuk merespons.

Rasa penasaran menjadi salah satu celah yang dimanfaatkan. Korban dapat diarahkan mengklik tautan, berkomunikasi dengan nomor tidak dikenal, hingga akhirnya menyerahkan uang atau informasi penting.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait