Tol Jangan Hanya Jadi Jalur Lintas, Lampung Bidik Manfaat Ekonomi
Focus Group Discussion (FGD) Nasional bertajuk “Jalan Tol untuk Apa dan Siapa?” sekaligus pengukuhan Pengurus Forum Ekosistem Jaringan Jalan Tol Pengurus Pusat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) di Hotel Grand Mercure, Bandar Lampung, Sabtu 3 Septemb-Foto: Prima Imansyah Permana/ Radarlampung.co.id.---
RADARLAMPUNG.CO.ID – Pembangunan jalan tol tidak cukup hanya diukur dari panjang ruas, jumlah kendaraan yang melintas, maupun efisiensi waktu perjalanan.
Lebih dari itu, infrastruktur strategis tersebut harus mampu menekan biaya logistik, menggerakkan investasi, memperkuat daya saing produk lokal, hingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah yang dilintasi.
Hal tersebut menjadi sorotan dalam Focus Group Discussion (FGD) Nasional bertajuk “Jalan Tol untuk Apa dan Siapa?” sekaligus pengukuhan Pengurus Forum Ekosistem Jaringan Jalan Tol Pengurus Pusat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) di Hotel Grand Mercure, Bandar Lampung, Sabtu 3 September 2026.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan, jalan tol harus menjadi instrumen transformasi ekonomi daerah, bukan sekadar jalur yang mempercepat kendaraan melintasi wilayah Lampung.
Sebagai pintu gerbang Pulau Sumatera, Lampung memiliki posisi strategis untuk berkembang sebagai pusat distribusi, perdagangan, industri, dan logistik. Namun, potensi tersebut perlu didukung konektivitas yang terintegrasi dari sentra produksi hingga pasar.
"Lampung tidak ingin jalan tol hanya mempercepat kendaraan melintasi Lampung. Kita ingin jalan tol mempercepat transformasi ekonomi Lampung," tegas Mirza.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan jalan tol perlu diukur dari dampak nyata yang dihasilkan, mulai dari penurunan biaya logistik, percepatan distribusi barang, pertumbuhan investasi, pengembangan kawasan ekonomi, hingga peningkatan pendapatan masyarakat.
Lampung yang memiliki basis ekonomi kuat di sektor pertanian, dengan kontribusi sekitar 26,90 persen terhadap perekonomian atau bernilai lebih dari Rp140 triliun, membutuhkan sistem transportasi yang mampu menghubungkan hasil produksi dengan pusat pengolahan dan pasar secara efisien.
BACA JUGA:Menjaga Pangan, Menempa Masa Depan: Jejak Pupuk Kaltim dari Pabrik Hingga Lapangan Hijau
Komoditas seperti gabah, kopi, singkong, pisang, hasil perkebunan, perikanan, hingga produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) harus memperoleh manfaat dari keberadaan jaringan jalan tol.
Karena itu, Mirza menilai pembangunan jalan tol harus terintegrasi dengan jaringan jalan penghubung, kawasan industri, pusat distribusi, pelabuhan, hingga kawasan ekonomi lainnya.
"Kalau petani menghasilkan komoditas di desa, tetapi jalan dari sentra produksi menuju pintu tol masih menjadi hambatan, maka manfaat ekonomi jalan tol belum optimal," ujarnya.
Ia menekankan pentingnya penguatan konektivitas first-mile dan last-mile, yakni akses dari sentra produksi menuju jaringan utama dan dari jaringan utama menuju tujuan akhir distribusi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


