Merdeka Belajar, Jalan Pintas SDM Unggul

Merdeka Belajar, Jalan Pintas SDM Unggul

Oleh Dinda Adistia Meliani* (* Mahasiswa Universitas Padjajaran dan Peserta Course Penyuntingan KMMI 2021 Umpri Lampung)   “Gelar tidak menjamin kompetensi. Kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya. Akreditasi tidak menjamin mutu. Masuk kelas tidak menjamin belajar.” (Nadiem Anwar Makarim, Mendikbud RI). Dari revolusi industri 4.0 yang fokus pada perkembangan teknologi, kini dunia mulai beralih pada society 5.0 yang berpusat pada manusia sebagai teknologi itu sendiri. Kemunculannya di Jepang memberikan dampak cukup besar bagi negara lainnya, termasuk Indonesia. Jika kita amati, penerapan konsep revolusi industri 4.0 di Indonesia bahkan belum maksimal. Pada tahun 2018, Jusuf Kalla mengatakan Indonesia belum sepenuhnya menerapkan konsep tersebut dan masih menggunakan konsep revolusi industri pertama sampai ketiga di beberapa sektor. Misalnya pada sektor pertanian, para petani masih banyak yang menggunakan teknologi konvensional dibandingkan teknologi modern. Tidak maksimalnya penerapan dan pemerataan inilah yang membuat banyak pihak cenderung khawatir akan penerapan society 5.0 di Indonesia. Terlebih lagi adanya narasi menuju Indonesia emas tahun 2045. Namun, kekhawatiran tersebut mulai sirna. Ini setelah munculnya berbagai program inovatif pemerintah yang mulai mendapat perhatian masyarakat. Seperti program merdeka belajar yang dicetuskan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Mendikbud RI). Merdeka belajar merupakan inovasi dalam sistem pendidikan Indonesia yang dianggap ekstrim. Terlebih, program tersebut belum memiliki rincian teknis pelaksanaannya. Ketidakpercayaan publik pun muncul atas ide tersebut. Namun, ide itu kini memperlihatkan jati dirinya. Program merdeka belajar muncul sebagai sistem yang dinilai mampu membantu Indonesia untuk mencapai cita-cita sebagai negara yang berdaulat, maju, adil, dan makmur pada tahun 2045. Pemerintah percaya bahwa hal tersebut bisa dicapai melalui pembangunan sumber daya manusia (SDM) dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Berbagai program pun diciptakan guna merealisasikan dan mencapai tujuan yang diharapkan. Salah satu program tersebut adalah Kampus Merdeka yang berslogan, “Tidak akan ada lagi batasan Mahasiswa Indonesia untuk belajar apa pun di mana pun.” Kampus Merdeka merupakan program yang diperuntukkan mahasiswa di seluruh Indonesia. Program tersebut meliputi Magang Merdeka, Kredensial Mikro Mahasiswa Indonesia (KMMI), Indonesia International Student Mobility Awards (IISMA), Kampus Mengajar, dan sebagainya. Program tersebut menurut saya sangat menyenangkan para mahasiswa. Alasannya sederhana, yaitu biaya nol rupiah, wawasan bertambah, keterampilan meningkat, relasi meluas, dan dompet terisi. Sangat terlihat, pemerintah benar-benar ingin mewujudkan apa yang dicita-citakan demi peningkatan mutu SDM. Saya percaya jika masyarakat peka dan memiliki keinginan berkontribusi dalam program ini, Indonesia Emas tahun 2045 bukan sebuah ketidakmungkinan. Selain program Kampus Merdeka, ada juga program lain seperti Ayo Kursus. Program tersebut mengarah kepada masyarakat umum yang bukan seorang pelajar. Ini membuktikan bahwa pemerintah tidak membatasi peningkatan pengetahuan dan keterampilan hanya pada pelajar, tetapi juga kepada seluruh masyarakat Indonesia. Jadi, hadirnya program merdeka belajar merupakan langkah yang tepat untuk menciptakan SDM yang unggul. Ketika sebuah negara memiliki SDM yang unggul, maka kehidupan di berbagai sektor akan seimbang dan berjalan dengan lancar. Kehadiran berbagai program tersebut bisa dikatakan sebagai langkah nyata pemerintah untuk memperbaiki negeri ini. Sekarang yang menjadi pertanyaannya, maukah kita memaksimalkan kesempatan ini demi mewujudkan generasi emas Indonesia tahun 2045 ? (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: