Peringati Satu Suro, Warga Candimas Natar Lakukan Tradisis Cuci Keris

Peringati Satu Suro, Warga Candimas Natar Lakukan Tradisis Cuci Keris

Radarlampung.co.id - Satu Muharram 1440 Hijriah bagi masyarakat adat jawa juga merupakan malam satu suro. Dalam malam satu suro ini tidak lepas dengan tradisi kumbah atau bisa disebut cuci keris, kegiatan tradisi ini dilakukan di beberapa warga Jalan Way Dadi, Dusun Candimas Lima, Natar, Lampung Selatan, Selasa (11/9). Mbah Kabul Suryo Sentono (80) bersama Istri dan anaknya disetiap tahunnya kerap melakukan tradisi nenek moyang yaitu ritual Kumbah Keris dengan tujuan menolak bala atau musibah di Lampung. Malam satu Suro sebutan Jawa dari tahun baru Hijriah dimana biasanya mbah Kabul mencuci banyaknya pusaka yang dia punya. Pencucian dilakukan pada pukul 24.00 WIB malam, menggunakan air dan jeruk purut. Berbagai macam jenis keris dan ukuran dimiliki oleh kakek kelahiran Pekalongan 13 Agustus 1939 itu, ada13 jenis keris batu cincin, telur perak, dan beberapa uang peninggalan Belanda disimpan apik didalam sebuah lemari dikediamannya. Nama dari setiap keris pun berbeda-beda, mulai dari keris brojol konon ini untuk membantu orang melahirkan, keris Nacombong yang konon katanya bisa membantu menaikan jabatan. Namun, satu hal pria tua tersebut tetap berpanutan kepada Allah SWT, dan tidak digunakan untuk menyakiti orang lain. “Tapi tetap saya berpegang teguh dengan gusti Allah, ini kan cara kita untuk terhindar dari musibah seperti puting beliung, banjir, dan lain-lain,” ujarnya kepada Radarlampung.co.id, saat disambangi ke ruang kerisnya. Cara mendapatkan nya pun unilk, menurutnya harus bermimpi dahulu barulah keris itu datang dengan sendirinya. “Pertama kali dapet keris itu tahun 1984 dan itu mimpi didatangi orang tua dan besoknya langsung ada keris itu, mimpi didatangi bidadari datang lagi, mimpi punya ayam jago besoknya keris itu jatoh di sawah saya,” ungkap dia. Pria tua yang masih aktif dalam usahanya itu mengaku keris yang dimiliki tidak untuk dijual meski dengan harga dengan tawaran tinggi. “Dulu ada yang tawar Rp300 juta, enggak saya kasih, karena ini kan warisan Indonesia masa mau dikasi orang cina,” ungkap dia. Mbah Kabul yang sudah mempunyai puluhan cucu tersebut memiliki usaha paguyuban kuda Lumping Sejak 29 tahun silam. Dan saat ini, usahanya itu masih berjalan bahkan diteruskan oleh anak menantunya. “Iya yang ikut disini anak cucung sendiri,” paparnya. Terakhir Mbah Kabul juga berpesan kepada anak muda agar jangan lupa kepada tradisi nenek moyang. “Anak muda yang menjadi kebanggaan adalah, mereka yang masih mau melestarikan budaya dan tradisi turun temurun,” pungkasnya. (mel/ang)

Sumber: