Persiapkan Amalan Ramadan

Persiapkan Amalan Ramadan

Oleh Asrian Hendi Caya*   Ramadan adalah bulan yang penuh kemuliaan. Puasa adalah ibadah yang Allah sendiri akan membalasnya. “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151). Lalu apa yang masih menghalangi kita untuk meraih kemuliaan ramadlan yang Allah sendiri akan membalas setiap amal kebaikan kita. Ayo kita optimalkan bulan ramadlan dengan amalan kebaikan yang sebanyak-banyaknya. Untuk itu, mari kita persiapkan diri untuk menyambut ramadan dengan merencanakan amal kebaikan yang akan dilaksanakan selama bulan ramadan. Allah telah mengingatkan orang-orang beriman untuk mempersiapkan hari esok. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Qs 49: 18). Dalam rangka mempermudah optimalisasi amalan ramadan ada baiknya kita susun agenda amalan sesuai dengan tingkatannya. Agenda ini merupakan pelembagaan (pembiasaan) amalan ibadah harian. Salat adalah agenda utama. Mengapa ? “Hal pertama yang akan dihisab di hari kiamat dari amal seorang hamba adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka sungguh dia beruntung dan selamat. Jika shalatnya buruk, maka sungguh dia celaka dan rugi. Jika ada kekurangan pada shalat wajibnya, Allah Ta’ala berfirman, Periksalah, apakah hamba-Ku memiliki ibadah sunnah yang bisa menyempurnakan ibadah wajibnya yang kurang?” Demikianlah yang berlaku pada seluruh amal wajibnya(HR. Tirmidzi no. 413, An-Nasa’i no. 466). Salat wajib harus lima waktu. Bila selama ini belum lima waktu maka prioritasnya adalah mencukupkannya lima waktu setiap hari selama ramadan. Diupayakan buat agenda harian sehingga tidak ada salat wajib yang terlewatkan. Bila sudah salat wajib lima waktu, maka tekad kita adalah melaksanakannya diawal waktu. Akan lebih baik berjamaah dan di masjid untuk yang laki-laki. (untuk saat ini, dengan wabah covid 19 maka jamaah di masjid bisa kita abaikan sementara sesuai dengan fatwa MUI). Amalan selanjutnya, menyempurnakan salat wajib dengan amalan salat sunah. Salat sunah dimulai dengan salat sunah rawatib. Bila selama ini belum pernah maka diupayakan melakukannya. Dan targetkan selama ramalan bisa dilaksanakan secara penuh. Dari ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan dua belas (12) rakaat pada sholat sunnah rawatib, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga, (yaitu): empat rakaat sebelum dzuhur, dan dua rakaat sesudahnya, dan dua rakaat sesudah maghrib, dan dua rakaat sesudah ‘isya, dan dua rakaat sebelum subuh“ (HR. At-Tarmidzi no. 414, An-Nasa’i no. 1794). Yang khusus ramadan adalah salat sunah tarawih. Bila selama ini belum penuh dilakukan selama sebulan maka ditargetkan untuk dilaksanakan secara penuh. Tidak harus berjemaah ke masjid (apalagi saat ini sedang wabah covid 19). Bilangan rekaatnya disesuaikan, ada yang delapan atau lebih. Ada salat witir, minimal satu rakaat. Pada saat ramadlan biasanya digabung dengan salat tarawih. Ada pula yang mengahirkannya sebelum makan sahur. Salat sunat dhuha dilaksanakan pada pagi hari setelah matahari naik. Salat sunah tahajud di malam hari utamanya pada dua pertiga malam. Yang penting mari kita agendakan dan berkomitmen melaksanakannya secara rutin. Ada pula salat sunat wudu yaitu setelah berwudu, tahyatul masjid ketika masuk masjid sebagai penghormatan. Ada pula salat sunah taubat dan tasbih. Ada baiknya semua salat sunah ini diagendakan walau tidak rutin setiap hari. Tekadkan bahwa ramadlan ini harus diisi dengan banyak amalan ibadah. Membaca Al-Quran juga amalan yang harus diagendakan. Bila selama ini, hampir tidak pernah membaca Al-Quran kecuali melapaskannya pada saat salat, maka upayakan selama ramadan menyempatkan diri untuk membaca quran (tadarus). Bagi yang sudah sering membaca quran maka ditambah jumlah (frekwensi) dan banyaknya bacaan (halaman). Menargetkan tamat quran akan lebih baik. Dan tak kalah penting adalah tilawah, yaitu membaca quran dan berusaha memahaminya dengan membaca artinya sehingga tumbuh pemahaman atas apa yang dibaca, bukankah quran adalah hudallinnas (petunjuk bagi manusia) dan al furqon (pembeda antara yang haq dan batil). Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: Amalan puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberi syafa’at bagi seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan Al-Qur’an berkata: Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi syafa’at” [HR. Ahmad, Shahih At-Targhib: 1429]. Amalan yang juga baik adalah bersedekah. Bila selama ini belum, mulailah. Usahakan bersedekah setiap waktu, terutama pada saat salat wajib. Bukan jumlahnya, tapi frekwensinya. Bukan apa bentuknya, tapi pembriannya. Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma meriwayatkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus” (HR. Bukhari, no.6). Mari rencanakan puasa kita tahun ini sehingga lebih baik. Semoga puasa kita masuk kategori imanan wahtisaban. Semoga ramadan membiasakan kita melakukan amalan kebaikan. Waktu sebulan cukup untuk membiasakan amalan kebaikan sehingga setelah puasa amalan kebaikan ini sudah mentradisi dan menyatu dengan kehidupan kita sehari-hari. Semoga….(*)   *Peneliti PUSIBAN – Pusat Studi dan Informasi Pembangunan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: