Grup YANG

Grup YANG

Facebook, Instagram, YouTube, WhatsApp, Twitter, Medsos. (Pixelkult/Pixabay)--

Saya ini seperti Anda: jadi anggota grup WA. Lebih 15 grup. Saya jenis anggota yang juga seperti Anda: kurang aktif. Sering disindir kok hanya mantengi. Tidak pernah berkomentar.

Saya sendiri belum pernah minta untuk dimasukkan ke salah satu dari grup-grup itu. Tiba-tiba saja nama saya ada di situ. Sebagian memberi tahu lebih dulu. Lebih banyak yang dianggap pasti mau. Belakangan saya gak kejak. Tidak mau tambah. Kalau dituruti bisa lebih 30. Belakangan saya langsung exit ketika muncul grup baru: sudah terlalu banyak. Kadang juga terlalu mirip. 

Variasi grup yang saya ikuti itu lebar sekali. Ada yang sangat agamis. Misalnya ada yang selalu posting satu hari satu hadis. Atau memposting bahan renungan: isinya ayat-ayat Quran. Banyak juga yang menulis agar kita lebih taat lagi beragama. 

Di lain pihak saya juga diikutkan dalam grup yang tidak percaya agama. Bahkan tidak percaya Tuhan. Isinya seru sekali. Yang dibahas lebih banyak filsafat kebebasan berpikir. Juga tentang moralitas: apakah orang yang beragama moralnya pasti lebih baik. Apakah kian kelihatan beragama seseorang itu kian tinggi pula moralitasnya. Apakah yang tidak beragama tidak punya hak untuk bermoral baik. 

Stop. Saya tidak boleh mengutip ulang apa yang ada di postingan grup itu. Aturan sebuah grup WA seperti aturan di sebuah keluarga. Tidak boleh mengutip isi pembicaraan di grup tanpa minta ijin yang posting. Pembicaraan di situ untuk kepentingan intern keluarga. Bukan konsumsi umum. 

Stop. Bisa sensitif. 

Saya juga diikutkan grup yang khusus membahas pertanian. Ada juga yang khusus membahas komputer. 

Ada lagi grup yang isinya mementingkan ideologi. Satu lagi grup yang sangat kapitalis. Lalu ada grup yang sangat Islam. Tapi ada juga yang sangat Kristen - -dan saya juga diikutkan di situ. Lalu ada yang sangat Buddha. 

Bahkan ada grup dari aliran mistik dan tahayul. Pun saya dimasukkan. Tentu ada juga grup yang sangat pribumi. Lalu ada pula yang sangat Tionghoa. Dua-duanya saya ada di dalamnya. Grup yang sangat politik banyak. Lalu grup yang sangat kesehatan. 

Maka beraneka aspirasi berseliweran di HP saya. Otak saya pun mencelat-mencelat ke sudut sana-sini. 

Di beberapa grup itu, kadang ada yang monoton. Misalnya kalau ada yang meninggal dunia. Isi grup hanya ucapan duka cita. Mulai pagi sampai besoknya. Seolah tidak ikut berduka kalau tidak posting duka cita di grup.

Saya tidak pernah ikut berduka di situ. Kasihan yang membaca, terutama yang harus menghapus begitu banyak data. Padahal belum tentu semua anggota grup kenal keluarga yang meninggal itu. Saya pilih kirim WA langsung ke keluarga yang berduka, kalau itu saya kenal. 

Demikian juga kalau ada yang dapat gelar atau penghargaan. Isi grup itu ucapan selamat melulu.

Saya tidak seharusnya jengkel dengan yang seperti itu. Kan salah sendiri. Mengapa mau menjadi anggota grup dari begitu banyak aliran. Saya akhirnya menyadari itu salah saya sendiri. Ya sudah. 

Sumber:

Berita Terkait