Gempa Jerman

Gempa Jerman

Penyelenggaraan Piala Dunia 2022 Qatar tidak luput dari perhatian Al Qaeda. FOTO TWITTER @HENRYBUSHNELL--

MENULIS Piala Dunia? Tidak bisa. Tidak ada lagi yang tersisa. Saya juga tidak terlalu peduli Piala Dunia kali ini. Jam, 17 dan 20 adalah saatnya menulis untuk Disway. Yang saya tahu, bisa jadi orang Jawa lama menyebut negara itu kotor. Bukan Qatar. Itu karena dalam huruf Arab tulisan Qatar terdiri dari tiga huruf yang oleh orang di desa di Jawa disebut kop, tok dan ro'. Bacanya: kotor.

Maka menjelang Piala Dunia di Qatar sekarang ini, ada kampanye khusus bagaimana cara mengucapkan Qatar dalam bahasa Jawa –ups, dalam bahasa Inggris.

Bagi orang Qatar itu tidak masalah. Negara itu biasa diucapkan dengan banyak jenis nama: Catharaai, Catara, Qitar, Katar, Qataar. Artinya: tanah kosong, tak berpenghuni.

Mereka juga tidak terlalu pusing dengan hari kemerdekaan: menyatakan merdeka tanggal 1 September 1971, diberi kemerdekaan oleh Inggris tanggal 3 September 1971, tapi memperingati hari kemerdekaan tiap tanggal 18 Desember.

Yang jelas orang Qatar 25 kali lebih kaya dari orang Indonesia. Atau dua kali lebih kaya dari rata-rata orang Amerika. Atau Jerman. Pendapatan per kapitanya sekitar USD 120.000.

Berapa lama lagi Qatar bisa tetap semakmur sekarang? Yang mampu membiayai Piala Dunia termahal dalam sejarah –saya sampai lupa angkanya itu?

Cadangan gas alam Qatar masih belum habis dalam 125 tahun ke depan. Biar pun diproduksi dalam skala masif seperti sekarang. Cadangan gasnya itu ada di tengah laut, di tengah Selat Hormuz, di kedalaman laut 3.000.

Jumlah cadangan gas alamnya tidak usah saya sebut. Agar tidak membuat Qatar riya'. Tentu Qatar terus berdoa agar Iran tetap mendapat sanksi Amerika: agar tidak punya kemampuan investasi di bidang gas dalam jumlah besar.

Mengapa?

Sumur gas Qatar itu begitu luasnya, di bawah laut sana, sampai mencapai wilayah laut Iran. Maka Iran sebenarnya juga bisa menyedot gas itu dari wilayahnya. Dari arah timur. Sekuat Iran sekali pun. Sekarang ini gas-nya Iran itu ikut kesedot oleh Qatar. Iran tidak mungkin bisa bikin tembok pembatas di ''danau gas'' yang maha luas itu di kedalaman 3000 meter. Sebaliknya kalau Iran kelak mampu menyedot gas itu besar-besaran gas milik Qatar pun kesedot Iran. Mereka bisa saling sedot-sedotan. Qatar menyedot dari barat, Iran menyedot dari timur. Tinggal siapa yang lebih kuat menyedotnya.

Sekarang ini Iran juga sudah mulai ikut menyedot. Kecil-kecilan. Untuk rakyat Iran sendiri. Tiap rumah di Iran dapat aliran gas lewat pipa langsung ke dapur masing-masing. Toh kalau Iran mampu menyedot lebih dari itu tidak bisa juga menjual ke negara lain. Diblokade oleh Amerika Serikat.

Sebenarnya Iran bisa memperpanjang pipa gasnya ke Pakistan yang lagi dahaga energi. Atau masuk ke Afghanistan yang miskin. Tapi itu akan membuat Amerika marah besar.

Untuk menjual ke negara lain, Iran harus mengubah gas itu menjadi gas-cair (LNG). Membangun instalasi LNG itu sangat mahal. Teknologinya juga sangat tinggi. Tanpa kerja sama dengan Barat, atau Jepang, sulit dilakukan.

Tapi Iran nekat. Iran mencoba membangun sendiri instalasi LNG di dekat pantai yang menghadap ke Qatar. Instalasi tersebut sekarang, mestinya, sudah jadi. Sewaktu saya ke sana sekian tahun lalu sedang dikerjakan. Amat pelan. Saya lihat ada alat berat yang bertulisan made in Amerika di proyek LNG tersebut. Mungkin alat berat sisa lama yang masih bisa diperbaiki.

Sumber: