Dies Natalis ke-61 Unila: Wadirut MIND ID Ungkap Potensi dan Strategi Hilirisasi Pertanian Lampung

Dies Natalis ke-61 Unila: Wadirut MIND ID Ungkap Potensi dan Strategi Hilirisasi Pertanian Lampung

Dies Natalis ke-61 Unila: Wakil Direktur MIND ID Dr Dany Amrul Ichdan ungkap Potensi dan Strategi Hilirisasi Pertanian Lampung.-Foto Istimewa-

​RADARLAMPUNG.CO.ID— Pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung yang melampaui rata-rata wilayah Sumatera dinilai masih menyisakan satu pekerjaan rumah penting: seberapa besar nilai tambah hasil pertanian yang benar-benar dinikmati oleh masyarakat lokal di daerah.

​Hal tersebut mengemuka dalam orasi ilmiah yang disampaikan oleh Wakil Direktur Utama (Wadirut) MIND ID, Dr. Dany Amrul Ichdan, pada Rapat Luar Biasa Senat Universitas Lampung (Unila) dalam rangka Dies Natalis ke-61 di Gedung Serbaguna Unila.

​Dany memaparkan bahwa produk domestik regional bruto (PDRB) Lampung menunjukkan lonjakan signifikan sekitar 3,5 kali dalam kurun waktu 15 tahun terakhir, yakni dari Rp150 triliun pada 2010 menjadi sekitar Rp523 triliun pada 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat ekonomi Lampung tumbuh 5,28 persen pada 2025.

Kendati demikian, kontribusi sektor manufaktur masih tertahan di kisaran 17–20 persen, mengindikasikan bahwa struktur pengolahan komoditas belum sepenuhnya beranjak optimal.

BACA JUGA:Cetak 102 Dokter Baru, FK Unila Perkuat Ekosistem Kesehatan Lewat RSPTN dan IRC

​“Kelihatannya capek larinya kencang, tapi posisinya di situ-situ saja,” ujar Dany di hadapan sivitas akademika Unila.

​Ia menguraikan bahwa rantai nilai sektor pertanian Lampung berhenti terlalu awal. Dari total sektor pertanian senilai sekitar Rp150 triliun, hanya sekitar Rp20–30 triliun saja yang masuk ke ranah industri pengolahan.

Padahal, modal sumber daya alam Lampung sangat melimpah.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, Lampung merupakan sentra ubi kayu terbesar nasional dengan produksi mencapai 7,9 juta ton pada 2024, dengan nilai ekonomi sekitar Rp10,6 triliun.

BACA JUGA:Resmi Maju Pilrek Unila 2027–2031, Prof Rudy Usung Visi Riset Hingga Internasionalisasi

Selain itu, nilai ekonomi pisang Lampung tercatat mencapai Rp25,3 triliun, disusul posisi kopi dan jagung di peringkat kedua dan ketiga nasional, serta potensi lada hitam yang menjanjikan.

​Guna menjawab tantangan ini, alumnus S1 Manajemen Ekonomi Unila tahun 1998 tersebut menawarkan kerangka strategis DAI:

​Distinctive: Memilih keunggulan kompetitif yang bersumber langsung dari komoditas khas Lampung.

​Adaptive: Menyiapkan infrastruktur, energi, dan kawasan industri pengolahan. Dalam hal ini, ia mengapresiasi rencana pengembangan Kawasan Industri Katibung sebagai pusat energi terintegrasi dan bioetanol (target groundbreaking 2027), Kawasan Industri Lampung II (KAIL II) untuk agro-industri, serta penjajakan wilayah Rejosari untuk bioetanol berbasis sorgum.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait