Kisah Nabi Adam dan Iblis: Akar Rasisme Berawal dari Merasa Lebih Mulia
ilustrasi kisah Nabi Adam, pelajaran tentang taat, rendah hati, dan menolak kesombongan.-instagram/@zaman.rosul-
RADARLAMPUNG.CO.ID – Kisah Nabi Adam ‘alaihissalam dan Iblis bukan sekadar cerita awal penciptaan manusia.
Di dalamnya tersimpan peringatan tentang penyakit sosial yang kerap merusak hubungan antarmanusia, yakni merasa lebih mulia lalu merendahkan pihak lain.
Sikap semacam ini sering berawal dari kebanggaan identitas seperti asal-usul, status, pengalaman, hingga klaim keilmuan.
Dalam praktik keseharian, pola pikir demikian sangat dekat dengan rasisme karena menilai orang berdasarkan faktor bawaan dan bukan akhlak serta ketakwaannya.
BACA JUGA:Profesi Para Nabi: Teladan Kemandirian dari Pembuat Kapal hingga Perancang Baju Besi
Al-Qur’an menggambarkan momen ketika Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud sebagai bentuk penghormatan kepada Adam.
Semua patuh, tetapi Iblis menolak karena kesombongan.
“(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolaknya dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir.” (QS Al-Baqarah [2]:34).
Agar tidak terjadi salah paham, para ulama tafsir menjelaskan bahwa sujud dalam kisah itu bukan sujud ibadah seperti dalam shalat, melainkan sujud penghormatan.
BACA JUGA:Dari Sunah Nabi ke Aksi Nyata, YBM PLN Khitan 100 Anak Dhuafa di Bandar Lampung
“(Itu adalah) sujud penghormatan dengan cara membungkukkan badan.” (Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi, Tafsir al-Jalalain, Kairo: Darul Hadits, tafsir QS Al-Baqarah [2]:34).
Dengan demikian, inti persoalan Iblis bukan “disuruh menyembah Adam”, melainkan gagal taat karena takabbur.
Al-Qur’an juga menegaskan asal-usul Iblis untuk menutup pintu glorifikasi yang berlebihan.
Iblis bukan malaikat, melainkan dari golongan jin dan ia mendurhakai perintah Tuhannya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
