Kisah Nabi Idris AS: Teladan Integritas dan Keteguhan Hati Di Tengah Tekanan Hidup
Kisah Nabi Idris AS mengajarkan integritas, kesabaran, dan kemuliaan yang Allah angkat bagi hamba yang istiqamah.-x/@narkosun-
RADARLAMPUNG.CO.ID – Kisah Nabi Idris alaihissalam hadir dalam Al-Qur’an dengan penegasan yang ringkas tetapi kuat.
Ia mengajarkan bahwa kemuliaan tidak dibangun oleh sorotan manusia, melainkan oleh kejujuran iman, kesabaran, dan kesalehan yang nyata.
Di tengah zaman yang mudah membuat orang lelah, mudah gelisah, dan gampang terdorong mengejar pengakuan, sosok Nabi Idris menjadi pengingat bahwa jalan paling aman adalah menjaga benar dan tetap teguh.
Al-Qur’an menyebut Nabi Idris dengan pujian yang sangat jelas. Sebagaimana dalam surat Maryam ayat 56 sampai 57, Allah berfirman:
BACA JUGA:Kisah Nabi Adam dan Iblis: Akar Rasisme Berawal dari Merasa Lebih Mulia
"Dan ceritakanlah dalam Kitab tentang Idris. Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke tempat yang tinggi."
Pujian sebagai seorang yang sangat membenarkan mengajarkan bahwa jujur bukan sekadar soal ucapan, tetapi kesesuaian antara keyakinan dan amal, antara niat dan tindakan, antara amanah yang dipikul dan cara menunaikannya.
Kejujuran seperti ini yang membuat seorang hamba kokoh, bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Pujian berikutnya menambah gambaran tentang kualitas Nabi Idris. Sebagaimana dalam surat Al Anbiya ayat 85 sampai 86, Allah berfirman:
BACA JUGA:Profesi Para Nabi: Teladan Kemandirian dari Pembuat Kapal hingga Perancang Baju Besi
"Dan ingatlah kisah Ismail, Idris dan Zulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar, dan Kami masukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sungguh, mereka termasuk orang-orang yang saleh."
Ayat ini menegaskan bahwa sabar dalam iman bukan sikap pasrah tanpa usaha, melainkan keteguhan dalam menjalankan perintah Allah, ketahanan menghadapi ujian, dan kemampuan untuk tetap lurus ketika keadaan tidak selalu sesuai harapan.
Sabar semacam ini justru paling dibutuhkan pada masa ketika banyak orang ingin hasil cepat, mudah putus asa, dan gampang menyerah saat rencana tidak berjalan mulus.
Ketinggian derajat Nabi Idris juga tersambung dengan peristiwa Isra Mikraj.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
