Relevansi Isra Mikraj Di Tahun 2026, Pentingnya Menjaga Adab dan Merawat Hati
Suasana masjid pada peringatan Isra Mikraj-instagram/@patlot.hideung-
RADARLAMPUNG.CO.ID - Isra Mikraj sering ditempatkan sebagai peristiwa luar biasa yang melampaui nalar manusia, tetapi pesan terpentingnya justru tidak jauh dari kehidupan kita.
Bagaimana menjaga hati tetap stabil, pikiran tetap jernih, dan langkah tetap terarah saat ujian datang silih berganti.
Hari-hari ini, banyak orang kelelahan bukan karena kurang aktivitas, melainkan karena terlalu banyak yang dipikirkan.
Informasi datang tanpa jeda, komentar mudah memancing emosi, dan perbandingan di media sosial pelan-pelan menggerus rasa cukup.
Akibatnya, kecemasan mudah tumbuh, marah mudah menyala, dan hidup terasa berjalan tanpa pegangan.
Di tengah situasi seperti itu, Al-Qur’an mengingatkan kembali tentang perjalanan malam Rasulullah SAW dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa sebagai tanda kebesaran Allah dan penguatan bagi hamba-Nya. Allah berfirman:
“Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda tanda Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Al Isra [17] ayat 1).
Bagi banyak orang, kehidupan hari ini terasa padat tetapi hampa.
Target mengejar, notifikasi tak henti, dan perbandingan sosial di layar membuat hati mudah lelah. Pesan pertama Isra Mikraj adalah pelajaran tentang harapan.
Nabi SAW mengalami masa berat dalam hidupnya, tetapi Allah menunjukkan bahwa setelah kesulitan ada jalan keluar yang tidak disangka. Pesan ini sejalan dengan janji Allah bahwa kesulitan tidak pernah berdiri sendiri.
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS Al Insyirah [94] ayat 6).
Ayat ini sering menjadi pegangan saat seseorang merasa buntu, karena Allah sendiri menegaskan bahwa kemudahan berjalan bersama ujian, bukan datang setelah ujian selesai.
Relevansi berikutnya adalah soal cara menatap kehidupan dengan kacamata yang lebih jernih.
Dalam banyak situasi, manusia merasa sempit karena menilai hidup hanya dari sisi dunia yang terlihat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
