Bukan Enggan, Tapi Realistis: Cerita Gen Z Bandar Lampung yang Pilih 'Rem' Keinginan Nikah Muda
Data BPS secara nasional menunjukkan Tren Penurunan dalam 10 tahun terakhir terkait Angka Jumlah Pernikahan.-Ilustrasi/Foto.BPS Nasional -
RADARLAMPUNG.CO.ID– Kalimat "kapan nikah?" yang biasanya menghiasi meja makan saat kumpul keluarga kini mulai ditanggapi dengan senyuman tenang oleh Gen Z di Bandar Lampung.
Bukan tanpa alasan, data terbaru menunjukkan tren pernikahan nasional merosot tajam hingga 30 persen dalam satu dekade terakhir.
Di balik angka 1,47 juta pernikahan di tahun 2024—jauh dibanding 2014 yang mencapai 2,11 juta—ternyata ada pergeseran prinsip hidup yang mendalam.
BACA JUGA:Delapan Desa dengan 34 Ribu Penduduk Akan Masuk Bandar Lampung, Pemkot Siapkan Kecamatan Kota Baru
Bagi anak muda di Kota Tapis Berseri, menikah bukan lagi sekadar mengikuti garis umur, melainkan soal kesiapan yang matang.
Suara Hati dari Sudut Kafe Bandar Lampung
Rara (23), seorang karyawan swasta di area Teluk Betung, mengaku tidak terburu-buru meski teman sebayanya mulai mengunggah foto buku nikah di media sosial.
"Dulu mungkin umur 22 sudah dianggap telat. Tapi sekarang, kami lihat realita. Harga beras naik, biaya kontrakan di Bandar Lampung nggak murah, apalagi mikirin biaya sekolah anak nanti. Saya lebih pilih mapan dulu secara mental dan finansial," ujarnya saat berbincang dengan Radar Lampung.
Mengapa Gen Z Memilih Menunda?
Tren ini mencerminkan sikap "New Realism" yang dianut generasi muda saat ini:
Pendidikan dan Karier adalah Investasi: Banyak yang memilih mengejar gelar atau posisi di pekerjaan demi jaminan masa depan yang lebih stabil.
Standar Hidup Layak: Gen Z cenderung menghindari konflik rumah tangga yang dipicu masalah ekonomi. Mereka ingin "selesai dengan diri sendiri" sebelum bertanggung jawab atas hidup orang lain.
BACA JUGA:Bandar Lampung Menuju Kota Metropolitan: Lewat Proyek Sampah Jadi Energi Listrik
Stigma yang Memudar: Di Bandar Lampung, tekanan sosial untuk menikah muda perlahan terkikis oleh kesadaran bahwa kualitas pernikahan lebih penting daripada kecepatan waktu pernikahan.
Dampak pada Ekonomi Lokal
Penurunan angka pernikahan ini tentu menjadi sinyal bagi para pelaku usaha. Bisnis Wedding Organizer (WO), katering, hingga persewaan gedung di Bandar Lampung mulai merasakan perubahan pola permintaan.
Konsumen kini lebih selektif dan cenderung memilih konsep intimate wedding yang lebih hemat biaya namun tetap bermakna.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
