Dalil Hadis Keutamaan Itikaf 10 Hari Terakhir Ramadan, Ini Fakta Riwayat yang Jarang Diketahui
Itikaf di masjid menjadi tradisi akhir Ramadan.-instagram/@masjidzayedsolo-
RADARLAMPUNG.CO.ID — Ketika memasuki bulan Ramadan, kita sering mendapati momen yang ditunggu umat Islam.
Masjid lebih ramai, semangat qiyamul lail meningkat, dan banyak orang mulai merencanakan i’tikaf.
Di saat yang sama, kutipan tentang keutamaan i’tikaf juga banyak beredar di media sosial.
Sebagian ditulis sebagai “hadis Nabi” dan dibagikan untuk memotivasi.
BACA JUGA:Dalil Hadis Puasa Setengah Kesabaran Ramai di Ramadan, Ini Fakta Riwayat yang Jarang Dibahas
Agar semangat beramal tetap menenangkan dan berpijak pada rujukan yang tertib, sebagian riwayat yang populer perlu dikenali statusnya.
Salah satu yang sering beredar adalah hadis berikut:
مَنِ اعْتَكَفَ عَشْرًا فِي رَمَضَانَ كَانَ كَحَجَّتَيْنِ وَعُمْرَتَيْنِ
Artinya: “Barangsiapa yang beri’tikaf pada sepuluh hari (terakhir) bulan Ramadan, maka dia seperti telah menunaikan haji dan umrah dua kali.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dari Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma)
BACA JUGA:Dalil Keutamaan Ramadan Yang Sering Viral, Ini Penjelasan Ulama Hadis
Dalam penilaian ulama ahli hadis, riwayat ini tidak dapat dijadikan sandaran.
Syaikh Al-Albani rahimahullah menegaskan statusnya maudhu’ (palsu). Ia menyebutkannya dalam Dha’if Jami’ish Shaghir (no. 5460).
Al-Albani juga menjelaskan sebab kepalsuannya dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah (no. 518).
Dengan demikian, kalimat “i’tikaf sepuluh hari seperti haji dan umrah dua kali” tidak tepat dipastikan sebagai sabda Nabi, meskipun terdengar memotivasi.
BACA JUGA:Dalil Doa Buka Puasa Ini Ternyata Beda Statusnya, Mana yang Paling Kuat Sandarannya?
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
