Penyaluran Solar Hingga 108 Persen, Mengapa Antrean Belum Terurai?

Penyaluran Solar Hingga 108 Persen, Mengapa Antrean Belum Terurai?

Suasana antrian BBM subsidi di SPBU 24.35358 Jalan Lintas Kurungan Nyawa, Senin 14 September 2026 sore.---Foto: Prima Imansyah Permana/ Radarlampung.co.id.---

RADARLAMPUNG.CO.ID – Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) subsidi, khususnya Bio Solar, masih terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Lampung.

Antrean kendaraan bahkan mengular hingga bahu jalan, seperti terlihat di SPBU 24.35358 Jalan Lintas Kurungan Nyawa, SPBU 24.351.93 Jalan ZA Pagar Alam, SPBU 23.351.01 Jalan Bypass Soekarno-Hatta Rajabasa, serta SPBU 24.352.39 dan SPBU 24.352.43 di Jalan Yos Sudarso.

Kondisi tersebut menggambarkan masih sulitnya masyarakat memperoleh BBM subsidi. Selain mengganggu kelancaran lalu lintas, antrean yang memanjang hingga bahu jalan juga berpotensi menimbulkan kemacetan dan meningkatkan risiko kecelakaan.

Di sejumlah SPBU lain, antrean Pertalite juga masih ditemukan. Antrean Bio Solar dan Pertalite merupakan persoalan yang berdiri sendiri. Namun, keduanya sama-sama menunjukkan bahwa masyarakat masih harus menghabiskan waktu cukup lama untuk mendapatkan BBM bersubsidi.

BACA JUGA:Tips Wujudkan Transaksi Aman Bijak, Kenali Rupiah Lebih Dekat Lewat Edukasi Cinta, Bangga Sekaligus Paham

Di tengah kondisi itu, muncul pula informasi dugaan adanya kendaraan yang membeli Bio Solar bersubsidi untuk kemudian dijual kembali kepada pihak lain, termasuk untuk kebutuhan industri, dengan harga sekitar Rp12 ribu per liter.

Dugaan tersebut perlu mendapat perhatian serius karena praktik pembelian BBM subsidi untuk dijual kembali berpotensi mengurangi akses masyarakat dan pelaku usaha yang memang berhak menerima subsidi. Selain itu, praktik tersebut dapat memperbesar tekanan terhadap ketersediaan Bio Solar di SPBU.

Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel menyatakan penyaluran Bio Solar tetap berjalan dan tidak ada kebijakan pengurangan pasokan. Pertamina menyebut peningkatan konsumsi menjadi salah satu faktor yang menyebabkan antrean di sejumlah lokasi.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Rusminto Wahyudi mengatakan, pihaknya terus melakukan optimalisasi suplai dan distribusi, termasuk menyesuaikan pola pengiriman ke SPBU dengan tingkat konsumsi yang tinggi.

BACA JUGA:KBM Tatap Muka di Bandar Lampung Kembali Normal 14 September, Disdikbud Terapkan Protokol Ketat

“Tidak ada kebijakan pengurangan penyaluran Biosolar oleh Pertamina. Kami terus melakukan optimalisasi suplai, termasuk menyesuaikan pola pengiriman ke SPBU dengan tingkat konsumsi yang tinggi. Peningkatan penyaluran juga terus kami lakukan untuk merespons kebutuhan di lapangan,” ujar Rusminto kepada Radarlampung.co.id, Senin 14 September 2026.

Menurutnya, konsumsi Bio Solar mengalami peningkatan yang dipengaruhi aktivitas ekonomi, mobilitas masyarakat, pariwisata, pertumbuhan kendaraan bermotor, serta disparitas harga dengan bahan bakar diesel nonsubsidi.

Rata-rata penyaluran Bio Solar pada Januari hingga April 2026 tercatat sekitar 2.178 kiloliter per hari. Angka tersebut meningkat menjadi sekitar 2.503 kiloliter per hari pada periode Mei hingga Agustus 2026.

Dengan demikian, rata-rata penyaluran meningkat sekitar 14,9 persen.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait