Harga Hasil Pertanian Naik, Daya Tukar Petani Lampung Menguat
Kepala BPS Provinsi Lampung Ahmadriswan Nasution saat memberikan keterangan.---Foto: Prima Imansyah Permana/ Radarlampung.co.id.---
RADARLAMPUNG.CO.ID – Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Lampung pada September 2026 meningkat 2,09 persen menjadi 137,63 dibandingkan Agustus 2026 yang tercatat 134,81.
Kenaikan ini menunjukkan harga yang diterima petani dari hasil produksi tumbuh lebih cepat dibandingkan harga yang harus dibayarkan untuk kebutuhan konsumsi maupun biaya produksi.
Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung yang dirilis 1 Oktober 2026, peningkatan NTP dipengaruhi kenaikan indeks harga yang diterima petani sebesar 2,25 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani hanya meningkat 0,16 persen.
Kepala BPS Provinsi Lampung Ahmadriswan Nasution menjelaskan, kenaikan NTP tersebut mencerminkan membaiknya daya tukar hasil pertanian terhadap barang dan jasa yang dibutuhkan petani.
BACA JUGA:Gandeng Google, Unila Bekali Ribuan Sivitas Akademika Lewat Gemini Academy 2026
"Pada September 2026, kenaikan harga yang diterima petani lebih tinggi dibandingkan kenaikan harga yang dibayarkan. Kondisi ini mendorong NTP Lampung meningkat 2,09 persen menjadi 137,63," jelasnya.
Kenaikan NTP terjadi pada hampir seluruh subsektor pertanian. Peningkatan tertinggi secara bulanan tercatat pada subsektor tanaman hortikultura sebesar 4,55 persen, disusul tanaman perkebunan rakyat 2,39 persen, tanaman pangan 2,03 persen, perikanan tangkap 1,94 persen, dan perikanan budidaya 0,28 persen.
Sementara itu, subsektor peternakan justru mengalami penurunan NTP sebesar 0,81 persen menjadi 98,14. Penurunan ini dipengaruhi melemahnya harga yang diterima peternak, terutama pada komoditas sapi potong, di tengah kenaikan biaya kebutuhan rumah tangga dan produksi.
BPS mencatat, kenaikan NTP tanaman pangan dipengaruhi komoditas ketela pohon dan jagung. Tingginya permintaan yang tidak diimbangi ketersediaan stok memicu kenaikan harga ketela pohon.
BACA JUGA:Angin Kencang Pohon Tumbang, Dua Orang Alami Luka
Pada subsektor hortikultura, kenaikan NTP didorong meningkatnya harga cabai merah dan tomat. Terbatasnya stok cabai merah akibat minimnya penanaman selama musim kemarau turut memengaruhi kenaikan harga komoditas tersebut.
Sementara itu, peningkatan NTP perkebunan rakyat dipengaruhi kenaikan harga karet. Kondisi kemarau yang menyebabkan hasil panen menurun berdampak pada kenaikan harga komoditas tersebut.
Berbeda dengan subsektor lainnya, peternak menghadapi tekanan akibat sulitnya mendapatkan pakan selama musim kemarau. Kondisi ini mendorong sebagian peternak menjual sapi dengan harga lebih rendah sehingga indeks harga yang diterima peternak turun 0,63 persen.
Dari sektor perikanan, kenaikan NTP perikanan tangkap dipengaruhi meningkatnya harga ikan teri akibat terbatasnya hasil tangkapan karena belum memasuki musim ikan teri. Adapun perikanan budidaya mengalami peningkatan yang dipengaruhi komoditas udang air payau yang stoknya masih terbatas karena belum memasuki masa panen.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


