UNTUK memotivasi dosen melakukan riset sekaligus berbagi manfaat kepada masyarakat, Radar Lampung Online dan SKH Radar Lampung bekerja sama dengan Universitas Lampung untuk memublikasikan hasil-hasil riset pilihan. --------------------------------------------------------------------------------- NAMANYA keren, Dung Beetle. Satwa ini biasa terbang dan hinggap di kotoran hewan atau kotoran manusia. Penelitian Universitas Lampung (Unila) yang didanai oleh Ristek Dikti selama dua tahun berturut-turut menganalisis perannya dalam menjaga kestabilan biodiversitas hutan. Bagaimana perannya? Satwa kecil dengan ukuran tubuh mulai 2 mm sampai 50 mm ini akan masuk ke dalam kotoran hewan yang memakan biji-biji makanan dari hutan. Hewan besar seperti beruang, monyet, hingga burung, memakan biji-bijian matang di hutan, lalu Dung Beetle akan menyebarkan kotorannya sebagai penanda daerah teritori atau daerah kekuasaan satwa tersebut. Beruang, monyet dan burung ini adalah satwa penyebar biji tingkat pertama, sementara Dung Beetle, penyebar biji tingkat kedua. Selanjutnya, satwa kecil ini membongkar isi kotoran hewan besar, kemudian membuat bola-bola kotoran yang dikenal dengan istilah dung ball. Dung Beetle lantas menggelindingkannya di permukaan tanah. Sebagian dung ball dibawa ke bawah permukaan tanah melalui lubang atau terowongan. Ini adalah cara menyelamatkan dung ball. Dung ball yang sudah berada di bawah permukaan tanah menjadi stok pakan bagi dung beetle. Yang membuat takjub, dalam dung ball terdapat berbagai jenis biji bijian yang utuh, tidak tercerna oleh satwa penyebar biji tingkat pertama. Biji-biji kecil yang masuk dan tergulung dalam dung ball akan tersimpan aman di bawah permukaan tanah. Dalam kondisi yang cukup untuk masa tumbuh dari masa dormansi biji, maka biji-biji dalam dung ball akan tumbuh menjadi semai atau anakan pohon di hutan. Semakin beragam biji yang dimakan oleh satwa penyebar biji tingkat pertama maka semakin beragam semai atau anakan pohon yang akan tumbuh di hutan. Dimana prosesnya dibantu oleh Dung Beetle. Semakin jauh satwa penyebar biji tingkat pertama menjelajah di hutan maka keberagaman atau biodiversitas hutan akan semakin tinggi indeks keanekaragamannya. Komposisi hutan yang penuh dengan keanekaragaman semai atau anakan pohon maka akan membentuk ekosistem hutan yang beragam pula. Peran penyelamatan biji-bijian di hutan telah dilakukan oleh Dung Beetle dengan sempurna. (*) Penulis: Dr. Hj. Bainah Sari Dewi, S.Hut., M.P., I.P.M. (NIP 19731012 1999032001/Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian)
Dung Beetle, Kecil-Kecil Cabe Rawit
Jumat 04-10-2019,13:53 WIB
Editor : Widisandika
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Selasa 22-09-2026,06:18 WIB
Ramalan Zodiak Keuangan 21–22 September 2026: Sagitarius dan Capricorn Panen Cuan
Selasa 22-09-2026,08:26 WIB
PTBA Raih Dua Penghargaan Katadata ESG Insight Award 2026
Selasa 22-09-2026,09:03 WIB
Promo Tebus Murah Prima Mart September 2026, Belanja Hemat Rp 65 Ribu, Banyak Frozen Food Diskon
Selasa 22-09-2026,08:05 WIB
Peringatan Dini Cuaca Ekstrem di Lampung Selasa Pagi, Hujan Lebat dan Angin Kencang Intai Sejumlah Wilayah
Selasa 22-09-2026,14:24 WIB
Laka Beruntun di Jam Sibuk, Satu Orang Terluka
Terkini
Selasa 22-09-2026,19:40 WIB
PTBA Hadirkan Akses Air Berbasis Energi Surya untuk Warga Talang Jawa Sidomulyo I
Selasa 22-09-2026,18:27 WIB
Jadi Etalase Kampus, Unila Dorong Potensi Ekonomi dan Konservasi Lewat Pameran Anggrek Nusantara
Selasa 22-09-2026,14:24 WIB
Laka Beruntun di Jam Sibuk, Satu Orang Terluka
Selasa 22-09-2026,14:21 WIB
Resign Hari Ini, JHT Tak Hilang Esok Hari
Selasa 22-09-2026,14:18 WIB