Dalil Puasa Bikin Tidur Berpahala, Ini Fakta Status Riwayat dan Makna yang Sebenarnya

Senin 19-01-2026,09:40 WIB
Reporter : M.Nabil Mamnun*
Editor : Dian Saptari

Kesimpulannya, dua teks yang kerap dijadikan pembenaran untuk banyak tidur saat puasa tersebut tidak memiliki derajat yang cukup kuat untuk dijadikan sandaran penetapan keutamaan secara pasti.

Pelurusan yang perlu dipahami, tidur pada asalnya adalah perkara mubah (boleh) dan bukan ibadah ritual.

BACA JUGA:Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidr: Adab Menuntut Ilmu di Era Mudah Menghakimi

Oleh karena itu, tidak tepat bila disimpulkan bahwa setiap tidur orang yang berpuasa pasti berpahala ibadah.

Namun, tidur dapat bernilai ibadah bila diniatkan sebagai sarana menunjang ketaatan.

Misalnya untuk memulihkan tenaga agar kuat tarawih, qiyamul lail, tilawah, atau agar terhindar dari hal sia-sia yang mengurangi pahala puasa.

Sebaliknya, tidur berlebihan karena malas hingga melalaikan kewajiban atau mengurangi kualitas ibadah tidak otomatis bernilai ibadah meskipun dilakukan saat berpuasa.

BACA JUGA:Dalil Puasa Sunnah Senin Kamis dan Manfaatnya Menjaga Ibadah Tetap Konsisten

Masyarakat diimbau lebih berhati-hati dalam menyebarkan konten berlabel “hadis”, terutama yang digunakan untuk mengklaim pahala atau keutamaan tertentu.

Semangat Ramadhan tetap dapat dijaga dengan memperbanyak amal yang dasar dalilnya kuat, menunaikan kewajiban tepat waktu, menjaga lisan dan akhlak, serta menempatkan istirahat secukupnya sebagai penopang ibadah.

Bukan sekadar sebagai tujuan yang dibenarkan atas nama “keutamaan” yang tidak sahih.

*)Peserta Magang Kemnaker Batch 1

Kategori :