RADARLAMPUNG.CO.ID – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan ini diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas.
Walaupun pemerintah optimistis pasar berpeluang menguat pada perdagangan Senin, 2 Februari 2026, seiring rangkaian langkah reformasi yang tengah disiapkan untuk merespons sorotan investor global dan MSCI.
Mengacu pantauan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pukul 07.15 WIB, tercatat melemah 6,94% dan berakhir di level 8.329,60 dari 8.951,01.
Kapitalisasi pasar bursa turut menyusut 7,37% menjadi Rp15.046 triliun dari Rp16.244 triliun, atau turun sekitar Rp1.198 triliun dalam sepekan.
BACA JUGA:IHSG Rawan Lanjut Koreksi Level 8000 Jadi Kunci, ini Signal Saham Pilihan Jumat 30 Januari 2026
Di sisi lain, BEI mencatat kenaikan tertinggi terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian yang naik 29,28% menjadi Rp43,76 triliun dari Rp33,85 triliun pada pekan sebelumnya.
Meski demikian, investor asing masih membukukan jual bersih Rp1,53 triliun pada hari itu, sementara dalam sepekan asing net sell disebut sekitar Rp13,92 triliun.
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyampaikan keyakinannya bahwa pasar saham domestik dapat merespons positif rangkaian kebijakan yang disiapkan pemerintah.
Ia juga yang menjabat sebagai Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM menyebut telah berkomunikasi intensif dengan investor global dalam beberapa hari terakhir dan menilai sinyal yang diterima cenderung konstruktif.
BACA JUGA:IHSG Tertekan, Ini Rekomendasi Saham di Tengah Pasar Asia Variatif dan Tekanan Isu MSCI
“Saya meyakini market penerimaannya akan positif juga karena saya pun berbicara dalam dua hari terakhir ini dengan para investor luar. Responnya mereka juga memahami, mengerti dan mereka memberikan signal yang positif karena beberapa reform yang akan dilakukan ini,” ujar Rosan
Rosan mengatakan, salah satu kebijakan yang diapresiasi investor global adalah rencana peningkatan free float saham menjadi 15%.
Namun, ia mengungkap investor juga memberi masukan lanjutan agar ambang keterbukaan kepemilikan saham dapat diturunkan dari ketentuan saat ini yang mewajibkan keterbukaan untuk kepemilikan di atas 5%.
“Mereka menginginkan bahwa kalau sekarang kan yang perlu dibuka investornya itu kalau di atas 5% ya kan, nah mereka bilang kalau bisa itu diturunkan tidak hanya di batas 5% karena saya lihat di beberapa negara seperti India 1%, yang lain 2%, 1%, nah mereka ingin itu juga diturunkan,” lanjut Rosan.
BACA JUGA:IHSG Tertekan Sejak Pagi, Ini Daftar Signal Saham Pilihan Saat Pasar Masih Volatil Pasca MSCI