disway awards

Dalil Keutamaan Ramadan Yang Sering Viral, Ini Penjelasan Ulama Hadis

Dalil Keutamaan Ramadan Yang Sering Viral, Ini Penjelasan Ulama Hadis

Semangat beribadah sebaiknya dibangun di atas dalil yang sahih.-ilustrasi/Pixabay-

Karena cacat sanadnya, sebagian ulama menilai riwayat ini bukan sekadar dhaif, tetapi masuk kategori maudhu’ (palsu). Ibnul Jauzi secara tegas memasukkannya dalam kumpulan hadis palsu. [Al-Maudhu’at (II/547, no. 1119)]

Imam Asy-Syaukani juga menegaskan penilaian tersebut.

Ia menyebut riwayat ini dibawakan Abu Ya’la dari jalur Ibnu Mas’ud secara marfu’, namun hadisnya palsu; kecacatannya berada pada Jarir bin Ayyub, bahkan susunan lafaznya dinilai menunjukkan tanda-tanda kepalsuan. [Al-Fawa’id Al-Majmu’ah fil Ahaditsul Maudhu’ah (hal. 88, no. 254)]

Syaikh Al-Albani juga menyatakan statusnya maudhu’ dalam penilaian hadis-hadis targhib-tarhib yang lemah. [Dha’if Targhib wa Tarhib (II/303, no. 596)]

BACA JUGA:Dalil Puasa Sunnah Senin Kamis dan Manfaatnya Menjaga Ibadah Tetap Konsisten

Dalam sejumlah jalur lain, riwayat ini juga disebut pernah datang melalui Ath-Thabrani dengan perawi Al-Hayyaj bin Bustham, namun perawi ini dinilai dhaif oleh para ulama.

Al-Haitsamiy menyebutkan bahwa dalam sanad Mu’jamul Kabir terdapat Al-Hayyaj bin Bustham dan ia dhaif. [Majma’uz Zawa’id (III/145)]

Dengan penjelasan ini, poin yang perlu ditekankan adalah keutamaan Ramadan tetap sangat banyak dan kuat dalilnya, sehingga semangat beribadah tidak perlu bergantung pada riwayat yang dinilai palsu.

Kalimat di atas bisa saja terasa baik sebagai nasihat umum, tetapi tidak tepat dipastikan sebagai sabda Nabi bila status riwayatnya sudah dinilai maudhu’ oleh para ulama.

BACA JUGA:Dalil Keringanan Shalat Bagi Orang Sakit dan Musafir Agar Ibadah Tetap Terjaga

Karena itu, ketika menerima pesan berantai bertajuk “hadis keutamaan Ramadan”, pembaca dapat melakukan langkah sederhana.

Langkah tersebut memastikan ada rujukan kitab dan nomor riwayatnya, melihat penilaian ulama hadis terhadap sanadnya, dan bila belum jelas, lebih aman menyampaikannya sebagai “nasihat” tanpa menisbatkan langsung kepada Rasulullah SAW.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk berpegang pada ajaran Islam yang sahih, serta menjadikan Ramadan sebagai bulan yang benar-benar memperbaiki ibadah dan akhlak kita.

*)Peserta Magang Kemnaker Batch 1

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait