Mendesain Pendidikan Karakter Siswa Melalui Program Makan Bergizi Gratis
Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Metro Dr. Agus Muhammad Septiana, S.IP., M.H. (kanan)--
Prinsip utama teori ini menyatakan bahwa perilaku manusia dipelajari melalui pengamatan, pemodelan (modeling), dan imitasi. Aktivitas MBG menyediakan panggung nyata bagi siswa untuk mengamati perilaku teladan dari guru, petugas, dan teman sebaya dalam berinteraksi, mengantre, serta menerapkan adab makan.
2. Teori Pendidikan Karakter – Thomas Lickona
Lickona menegaskan bahwa pendidikan karakter yang efektif harus melibatkan tiga domain: moral knowing (pengetahuan moral), moral feeling (perasaan moral), dan moral action (tindakan moral). Momen MBG memfasilitasi terjadinya moral action secara langsung melalui tindakan konkrit sehari-hari.
3. Pendekatan Habituasi dan Pembiasaan (Habit Formation)
Karakter dibentuk melalui tindakan berulang yang dilakukan secara konsisten hingga menjadi kebiasaan otomatis. Ruang makan sekolah berfungsi sebagai wahana rutin harian di mana pembiasaan etika dan kebiasaan sosial dikembangkan secara alami.
III. PEMBAHASAN
Internalisasi nilai karakter dalam skema MBG di lingkungan sekolah Kota Metro dijalankan melalui skenario interaksi terstruktur:
1. Menumbuhkan Sikap Toleran dan Saling Menghormati
MBG menyatukan seluruh peserta didik dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, dan kebudayaan tanpa diskriminasi. Saat duduk bersama di satu meja menyantap hidangan yang sama, batas-batas perbedaan mencair.
Siswa diajarkan untuk saling menghormati perbedaan selera, menghargai keberagaman cara makan sesuai norma etika, serta menumbuhkan empati terhadap sesama kawan.
2. Membangun Kedisiplinan dan Tanggung Jawab
Sifat disiplin ditanamkan sejak alur MBG dimulai, misalnya dengan berbaris rapi saat mencuci tangan, mengantre saat pengambilan makanan, dan tepat waktu menjalankan ritual makan bersama.
Tanggung jawab diuji usai makan: siswa diwajibkan membersihkan wadah masing-masing, memilah sampah, dan mengembalikan peralatan makan ke tempat semula. Aktivitas sederhana ini melatih kepedulian terhadap lingkungan dan kesadaran akan tugas pribadi.
3. Menerapkan Three Magic Words dalam Interaksi Sehari-hari
Kultur komunikasi yang santun ditanamkan secara intensif melalui penggunaan tiga kata kunci:
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


