Kedaireka Jembatani Riset Perguruan Tinggi dan Industri

Kedaireka Jembatani Riset Perguruan Tinggi dan Industri

Program RekaTalks dan Reka Preneur di GSG Universitas Lampung (Unila). FOTO MELIDA ROHLITA/RADARLAMPUNG.CO.ID--

BACA JUGA: Unila Gelar Rapat Peninjauan Proyek Pembangunan RSP

“Support dana pemerintah dan Dudi itu 50:50. Ada dua multilayer efek. Tidak hanya dana dari Kemendikbud saja, tetapi juga swasta,” jelasnya.

Misalnya di Lampung, pada 2021, Giant Great Pineapple menginvestasikan dananya untuk kolaborasi riset sebesar Rp 3 miliar. 

Tahun ini naik hingga Rp 7 miliar. Artinya, pihak industri puas dengan kolaborasi riset tersebut.

“Tidak mungkin namanya industri tidak memikirkan keuntungan. Kalau berani naik, itu tandanya mereka puas terhadap hasil riset perguruan tinggi," ujarnya. 

BACA JUGA: Tujuh Kandidat Bakal Calon Rektor Unila Jalani Tes Kejiwaan

Asumsinya, penelitian itu bisa dimanfaatkan oleh industri. Jadi industri fokus ke keuntungan, dan perguruan tinggi fokus penelitian.

Kolaborasi riset diharapkan menghasilkan produk yang benar-benar dibutuhkan industri. 

Untuk pengaturan paten dan royalti disepakati oleh industri dengan perguruan tinggi.

Sedangkan Kedaireka hanya menjembatani industri dan perguruan tinggi berkomitmen untuk berkolaborasi.

BACA JUGA: Bakal Calon Rektor Unila Psikotes di RSJ Lampung

Mahir Bayasut juga mencontohkan salah satu produk yang dihasilkan dari kolaborasi riset Kedaireka yakni bus listrik Merah Putih yang digunakan untuk melayani para delegasi dan peserta KTT G20 di Bali beberapa waktu lalu.

Plt. Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Prof. Tjikjik Sri Tjahjandarie dalam pemaparannya mengakui anggaran terhadap research and development (R&D) Indonesia masih sangat rendah dibanding negara-negara di dunia, hanya 0,28 persen. Sementara rata-rata global adalah 2,8 persen. 

"Kebijakan Indonesia belum memfasilitasi secara terstruktur bagaimana keterlibatan dunia usaha dan industri dalam riset-riset di perguruan tinggi,” kata Prof. Tjikjik.

Menurutnya, perguruan tinggi merupakan sumbernya SDM ahli. Sementara industri membutuhkan SDM yang sangat bagus dalam melakukan research and development. Ini menjadi alasan diluncurkannya matching fundKedaireka.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: