BMKG: Gempa Tektonik Guncang Tanggamus Akibat Aktivitas Subduksi Lempeng Indo-Australia
Gempa bumi yang pernah tercatat dan terjadi di Indonesia. ILUSTRASI/FOTO PIXABAY--
RADARLAMPUNG.CO.ID - Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,3 mengguncang wilayah barat daya Tanggamus, Lampung, pada Rabu, 9 Juli 2025.
Berdasarkan hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pukul 07.30 WIB dengan episenter berada pada koordinat 6,60° LS dan 104,63° BT, atau sekitar 124 kilometer arah barat daya Tanggamus, pada kedalaman 47 kilometer.
Penata Muda Geofisika (PMG) Ahli Madya Stasiun Geofisika Lampung Utara Agung Setiadi menerangkan, gempa tersebut termasuk jenis gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia terhadap Lempeng Eurasia.
Proses subduksi ini menyebabkan patahan pada segmen Sesar Semangka.
“Gempa ini merupakan jenis pergerakan naik atau thrust fault, yang umum terjadi akibat aktivitas pergerakan lempeng di zona subduksi,” kata Agung, Kamis, 10 Juli 2025.
Getaran gempa dirasakan di sejumlah wilayah dengan skala intensitas berbeda. Di Cibeber, Bayah, dan Pringsewu, getaran dirasakan dengan skala III MMI, atau terasa jelas di dalam rumah seperti truk besar yang melintas.
Di Malingping dan Banjarsari, getaran tercatat pada skala II–III MMI. Sementara di Semaka, Pematang Sawah, Kota Agung, Bandar Lampung, dan Sumberjo, guncangan berada pada skala II MMI, yang dirasakan oleh sebagian orang dan membuat benda ringan bergoyang.
Meski dirasakan cukup luas, BMKG memastikan gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Hingga Kamis pagi, BMKG belum mencatat adanya aktivitas gempa susulan.
Namun, Agung Setiadi menyebutkan bahwa belum bisa dipastikan apakah akan terjadi gempa susulan atau after shok atau tidak.
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Masyarakat juga disarankan untuk menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa serta memastikan keamanan struktur bangunan sebelum kembali ke dalam rumah.
“Periksa kondisi bangunan, terutama jika terdapat retakan yang bisa membahayakan keselamatan. Pastikan rumah cukup tahan terhadap getaran gempa, pastikan struktur bangunan cukup tahan terhadap getaran gempa untuk menghindari potensi bahaya yang lebih besar,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
