Hadapi Risiko Megathrust, Pemprov Lampung Tempuh Langkah Mitigasi Terpadu
Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Lampung, Marindo Kurniawan, saat menerima Komandan Brigif 4 Marinir Lampung bersama jajaran Fakultas Teknik Universitas Lampung (Unila), di Ruang Kerja Sekda, Kantor Gubernur Lampung, Senin 5 Januari 2026.-Sumber foto : Biro Adpim.---
RADARLAMPUNG.CO.ID — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung terus perkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana gempa megathrust dan tsunami melalui strategi ganda, yakni penguatan teknologi peringatan dini dan kolaborasi lintas sektor.
Upaya ini melibatkan pemerintah daerah, akademisi, TNI, serta pemangku kepentingan lainnya.
Komitmen tersebut ditegaskan Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Lampung, Marindo Kurniawan, saat menerima Komandan Brigif 4 Marinir Lampung bersama jajaran Fakultas Teknik Universitas Lampung (Unila), di Ruang Kerja Sekda, Kantor Gubernur Lampung, Senin 5 Januari 2026.
Marindo menegaskan bahwa ancaman gempa megathrust merupakan risiko nyata yang harus disikapi secara serius, terencana, dan berkelanjutan.
BACA JUGA:Siap Hadir di Pasar Indonesia, Cek Spesifikasi HP Midrange Terbaru dari OPPO, Reno15 F
Mengingat bencana tidak dapat diprediksi waktu kejadiannya, kesiapsiagaan dan mitigasi menjadi kunci utama untuk melindungi masyarakat, khususnya di wilayah pesisir.
“Mitigasi bencana harus dibangun secara kolaboratif. Tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah, tetapi perlu sinergi dengan akademisi, TNI/Polri, dunia usaha, dan masyarakat,” ujar Marindo.
Dalam pertemuan tersebut, tim Universitas Lampung memaparkan pengembangan Unila Tsunami Early Warning System (U-TEWS), sebuah sistem peringatan dini tsunami berbasis teknologi dalam negeri.
Mona Arif Muda, anggota tim U-TEWS, menjelaskan bahwa sistem ini dikembangkan menggunakan sensor laut dangkal, drone pemantau, serta sistem pemantauan terintegrasi yang dinilai lebih ekonomis dan sesuai dengan karakteristik perairan Lampung.
BACA JUGA:BYD M6, MPV Listrik Keluarga dengan Kabin Luas dan Teknologi Modern
Teknologi tersebut diklaim mampu menjadi alternatif sistem impor berbiaya tinggi, dengan tetap menjaga akurasi dan keandalan data.
"Pengembangan ini diarahkan agar efektif, terjangkau, dan dapat diterapkan secara luas di wilayah pesisir,” kata Mona.
Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik Unila, Ahmad Herison, menegaskan bahwa pengembangan U-TEWS berbasis PUMMA (Perangkat Ukur Murah Muka Air Laut) tidak bersifat komersial, melainkan murni untuk kepentingan kemanusiaan.
Sistem ini dirancang agar dapat dipasang di kawasan pesisir, pelabuhan, hingga pulau-pulau strategis, serta terintegrasi dengan BMKG sebagai otoritas resmi peringatan dini.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
