Dalil Keutamaan Ramadan Yang Sering Viral, Ini Penjelasan Ulama Hadis
Semangat beribadah sebaiknya dibangun di atas dalil yang sahih.-ilustrasi/Pixabay-
RADARLAMPUNG.CO.ID — Ramadan memang selalu menghadirkan banyak nasihat yang menyejukkan.
Di tengah semangat saling mengingatkan, potongan kalimat yang dinisbatkan sebagai “hadis tentang keutamaan Ramadan” sering beredar luas karena terdengar indah dan memotivasi.
Agar ketenangan beribadah tetap terjaga, sebagian riwayat semacam ini perlu dikenali statusnya.
Bukan untuk mengurangi kemuliaan Ramadan, tetapi supaya penyandaran kepada Nabi Muhammad SAW dilakukan dengan lebih hati-hati.
BACA JUGA:Dalil Doa Buka Puasa Ini Ternyata Beda Statusnya, Mana yang Paling Kuat Sandarannya?
Salah satu yang cukup sering dibagikan adalah hadist berikut:
لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِيْ أَنْ تَكُوْنَ السَّنَةُ كُلُّهَا رَمَضَانَ إِنَّ الْجَنَّةَ لَتُزَيَّنُ لِرَمَضَانَ مِنْ رَأْسِ الْحَوْلِ إِلَى الحَوْلِ
Artinya: “Seandainya umatku mengetahui apa yang terdapat dalam bulan Ramadan, niscaya umatku akan menginginkan satu tahun penuh semuanya adalah bulan Ramadan. Sesungguhnya surga berhias menyambut Ramadan setiap tahunnya.” (HR. Ibn Khuzaimah dalam Shahih-nya no. 1886; Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 3361; Abu Ya’la no. 5273)
Riwayat ini memang disebutkan dalam beberapa kitab. Namun ketika ulama ahli hadis meneliti jalur sanadnya, mereka memberi catatan kuat tentang kelemahannya.
BACA JUGA:Dalil Pahala Sunnah Setara Wajib di Bulan Ramadhan Dari Mana Asalnya, Ini Penjelasan Faktanya
Dalam ringkasan penilaian yang dinukil dari Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, disebutkan bahwa di sanadnya terdapat Jarir bin Ayyub yang dinilai “wahin jiddan” (sangat lemah), dan Al-Bukhari menilainya “munkar al-hadits” (kritik yang sangat keras).
Catatan lain yang juga sering dibahas, riwayat ini kadang dinisbatkan kepada Abdullah bin Mas’ud dan kadang kepada Abu Mas’ud.
Dalam jalur yang diteliti, disebutkan bahwa yang lebih tepat adalah penisbatan kepada Abu Mas’ud Al-Ghifari.
Rincian semacam ini juga dibahas dalam karya-karya takhrij yang meneliti perbedaan periwayatan. [Mathalibul ‘Aliyah (VI/42–44, no. 1010)]
BACA JUGA:Dalil Puasa Bikin Tidur Berpahala, Ini Fakta Status Riwayat dan Makna yang Sebenarnya
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
