Rupiah Melemah ke Rp17.394 Saat Surplus Perdagangan Naik, Ini Penyebab Sebenarnya
Nilai Rupiah Kembali Melemah--
RADARLAMPUNG.CO.ID - Rupiah kembali tertekan di tengah kabar yang seharusnya menggembirakan. Saat Indonesia mencatat lonjakan surplus neraca perdagangan, nilai tukar justru bergerak ke arah sebaliknya.
Pada penutupan perdagangan Senin, rupiah melemah 0,33% ke level Rp17.394 per dolar AS sebuah ironi di tengah data ekonomi yang tampak kuat.
Sepanjang Maret 2026, Indonesia membukukan surplus perdagangan sebesar US$3,32 miliar. Angka ini melonjak dari bulan sebelumnya dan memperpanjang tren surplus menjadi 71 bulan berturut-turut sejak 2020.
Ekspor masih berada di atas impor, memberi kesan bahwa aliran devisa tetap terjaga.
BACA JUGA:Update Promo Bundling Indomaret 30 April - 6 Mei 2026, Beli Banyak Lebih Hemat
Namun pasar tidak hanya membaca angka utama. Di balik surplus itu, ada sinyal yang mulai membuat pelaku pasar berhati-hati. Nilai ekspor ternyata turun secara tahunan, sementara impor justru naik.
Ini memberi gambaran bahwa daya dorong eksternal mulai melemah, sementara kebutuhan dalam negeri tetap tinggi kombinasi yang tidak sepenuhnya mendukung penguatan rupiah.
Masalah lama juga belum hilang. Defisit sektor migas masih membebani, menandakan Indonesia belum lepas dari ketergantungan pada impor energi.
Setiap kali harga energi global bergerak naik atau permintaan meningkat, kebutuhan dolar ikut terdorong, dan ini memberi tekanan tambahan pada rupiah.
Dari dalam negeri, cerita lain ikut menambah beban. Aktivitas manufaktur yang selama berbulan-bulan ekspansif kini justru masuk fase kontraksi.
PMI April turun ke level 49,1, sebuah angka yang bagi pasar sering dibaca sebagai sinyal awal perlambatan ekonomi. Ketika mesin industri mulai melambat, ekspektasi pertumbuhan ikut terkoreksi dan sentimen terhadap rupiah ikut goyah.
Di saat yang sama, faktor global belum berpihak. Ketegangan geopolitik di berbagai kawasan membuat investor cenderung menghindari risiko.
Dalam kondisi seperti ini, dolar AS kembali menjadi “tempat berlindung” utama. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut tertekan meski fundamental domestiknya tidak sepenuhnya buruk.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
