Pada saat yang sama, beberapa indikator domestik juga ikut dicermati pelaku pasar sebagai penyangga sentimen.
Salah satunya terkait posisi cadangan devisa.
Cadangan devisa Indonesia pada Januari 2026 tercatat US$154,6 miliar, turun dari US$156,5 miliar pada Desember 2025, yang sebelumnya menjadi level tertinggi dalam sembilan bulan.
Penurunan tersebut dikaitkan dengan pembayaran utang valas pemerintah, serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah oleh Bank Indonesia.
BACA JUGA:IHSG Terperosok ke 7.922, Ini Signal Saham yang Muncul Saat Pasar Masih Bergetar
Dari sektor properti, indeks harga properti residensial Indonesia pada kuartal IV 2025 tumbuh 0,83 persen secara tahunan.
Angkanya relatif stabil dibandingkan 0,84 persen pada kuartal III 2025, namun disebut sebagai laju paling lambat sejak 2023.
Dengan situasi itu, pasar menanti rilis lanjutan dari dalam negeri yang bisa memberi arah baru bagi konsumsi.
Pada pekan ini, pelaku pasar dijadwalkan mencermati data consumer confidence, penjualan ritel, serta penjualan sepeda motor dan mobil.
BACA JUGA:IHSG Masih Volatil Tapi Ada Peluang Rebound, Ini Daftar Saham Pilihan yang Jadi Penentu Arah IHSG
Deretan data tersebut menjadi petunjuk awal untuk membaca daya beli, sekaligus menakar ketahanan konsumsi domestik.
Investor juga tetap memantau rilis global, termasuk data ketenagakerjaan dan inflasi Amerika Serikat.
Dari kacamata teknikal, Phintraco Sekuritas menilai IHSG berada di area penting.
IHSG ditutup di bawah MA5, tetapi masih bertahan di atas MA200. Selama indeks belum kembali stabil di atas 8.000, risiko pengujian support dinilai masih terbuka.
BACA JUGA:IHSG Rawan Lanjut Koreksi Level 8000 Jadi Kunci, ini Signal Saham Pilihan Jumat 30 Januari 2026
“IHSG diperkirakan masih berpotensi menguji level MA200 selama ditutup di bawah level 8.000. Jika IHSG ditutup di bawah level MA200 (sekitar 7.824), diperkirakan berpotensi menguji support selanjutnya di 7.700-7.800,” tulis Phintraco Sekuritas.