Rupee India tercatat mengalami pelemahan paling besar di antara mata uang utama Asia. Sementara itu, ringgit Malaysia, baht Thailand, won Korea Selatan, yuan China, peso Filipina, hingga dolar Singapura juga ikut bergerak melemah terhadap dolar AS.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan yang terjadi tidak hanya bersumber dari faktor domestik, tetapi juga dipengaruhi oleh sentimen global yang sedang kurang mendukung aset berisiko.
Dengan rupiah yang semakin mendekati level Rp18.000 per dolar AS, perhatian pasar kini tertuju pada langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Intervensi di pasar valuta asing serta kebijakan likuiditas diperkirakan menjadi instrumen utama untuk menahan volatilitas jangka pendek.
BACA JUGA:BGN Buka Hotline SAGI 127, Praktik Jual-Beli Titik SPPG dan Pungli Kini Bisa Dilaporkan
Namun, arah pergerakan rupiah ke depan masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan sentimen global, harga minyak dunia, dan arus modal asing.
Meski belum menembus level psikologis Rp18.000, tekanan yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase waspada terhadap potensi pelemahan lanjutan.