Sopir di Lampung Menjerit di Antrean Solar, Minta Pelangsir Ditertibkan

Jumat 09-10-2026,18:56 WIB
Reporter : Prima Imansyah Permana
Editor : Ari Suryanto

RADARLAMPUNG.CO.ID – Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Bio Solar di Lampung belum juga terurai. 

Meski peninjauan dan inspeksi mendadak (sidak) berulang kali dilakukan pemerintah bersama pihak terkait, para sopir kendaraan angkutan masih harus menghabiskan waktu berjam-jam di SPBU demi mendapatkan solar untuk melanjutkan pekerjaan.

Terbaru sidak dilakukan Wakil Ketua Komisi XII DPR RI daerah pemilihan Lampung, Putri Zulkifli Hasan, bersama Anggota Komite BPH Migas Eman Salman Arief, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Ketua DPRD Lampung Ahmad Giri Akbar, anggota DPRD Lampung Fauzan Sibron, dan jajaran terkait melakukan sidak ke sejumlah SPBU di Kecamatan Natar dan SPBU 23.351.01 di Rajabasa, Jumat 9 Oktober 2026

Namun, di balik rangkaian peninjauan tersebut, persoalan di lapangan masih menyisakan pekerjaan rumah. Bagi sopir truk, ukuran keberhasilan pengawasan bukan sekadar stok dinyatakan aman, melainkan seberapa mudah mereka memperoleh solar tanpa harus mengantre berjam-jam.

BACA JUGA:Wisuda Sesi III UAP Diikuti Lulusan Keperawatan, Kebidanan dan Rekam Medis

Rusli, sopir truk pengangkut pasir dari Gunung Sugih menuju Bandar Lampung, mengaku bisa menghabiskan dua hingga tiga jam untuk mengantre Bio Solar. Padahal, bahan bakar menjadi modal utama agar kendaraannya tetap beroperasi.

“Kalau harus mengantre panjang seperti ini, berbahaya karena memakan bahu jalan. Kami berharap distribusi solar bisa diatur lebih baik,” ujarnya saat ditemui saat mengantri biosolar di SPBU sekitar Lotte Mart Hajimena.

Menurut Rusli, sopir yang benar-benar membutuhkan solar untuk bekerja justru ikut terdampak oleh dugaan praktik pelangsiran. Ia meminta pihak terkait menindak tegas oknum yang diduga membeli BBM subsidi untuk dijual kembali.

Ia mengaku biasanya hanya mendapatkan solar senilai Rp250 ribu dalam sekali pengisian. Jumlah itu terkadang tidak mencukupi kebutuhan operasional untuk mengangkut pasir.

BACA JUGA:Teknokrat Gandeng Balai Bahasa Lampung, Bekali Mahasiswa Pentingnya Literasi

“Kalau pemerintah bilang stok aman, itu aman-aman bagi pelangsir. Kalau kami yang bekerja, masih kesulitan,” cetusnya.

Rusli juga menduga ada kendaraan dengan tangki yang telah dimodifikasi melebihi kapasitas normal untuk menampung lebih banyak BBM. Namun, dugaan tersebut perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan dan verifikasi oleh pihak berwenang.

Keluhan serupa disampaikan Dana, sopir truk boks pengangkut produk pertanian yang bermarkas di Kecamatan Natar. Ia mengaku harus mengantre sebelum kembali mengirimkan muatan ke sejumlah wilayah, termasuk Rawajitu hingga Mesuji.

Menurut Dana, antrean tidak hanya terjadi di Bandar Lampung, tetapi juga di berbagai SPBU sepanjang jalur distribusi. Waktu tunggu di luar kota bahkan bisa lebih lama.

BACA JUGA:Wisuda Sesi Kedua Universitas Aisyah Pringsewu Diikuti Lulusan Tujuh Program Studi

Kategori :